Pages

Transaction of Identities


"Transaction of Identities"
Artist: Faida Rachma and Puji Lestari C. | January 25 - February 8 2017

“What does it mean if all information is free and its transmission democratic? What has the internet made of identity? Who even am I when I can be anyone I want?"1

Projek ini memang bermula dari media sosial. Di mana saya dan Puji (yang merupakan pengguna aktif Instagram) merasakan gejolak-gejolak kecil yang muncul setiap kali kami selesai memantau timeline akun Instagram kami.

Obsessive Comparison Disorder

Generasi Y (saat ini berusia sekitar duapuluhan) yang sebagian besar merupakan pengguna internet adalah generasi yang terbiasa untuk melihat diri sendiri dan orang lain lewat media sosial. Generasi ini memilih untuk mengenang diri dan hari-hari yang dilaluinya lewat media sosial. Sekaligus memaksa orang lain untuk turut mengingatnya.

Istilah Obsessive Comparison Disorder (barangkali merupakan plesetan dari gangguan mental Obsessive Compulsive Disorder, atau bisa jadi memang sudah menjadi nama resmi dari suatu gangguan mental tertentu) ini banyak muncul dalam artikel-artikel yang membahas tentang media sosial dan pengaruhnya terhadap kondisi psikologis penggunanya, terutama yang membahas khusus mengenai Instagram. Secara garis besar, istilah ini memang mengacu pada gangguan kejiwaan, baik ringan maupun berat yang berupa dorongan untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

Kecenderungan untuk membandingkan diri sendiri dan orang lain sudah ada sejak generasi kedua, yang berujung pada pembunuhan pertama di dunia oleh Qabil terhadap Habil. Namun, yang menakutkan adalah bahwa tumbuhnya rasa iri terhadap orang lain ini muncul dan terpupuk lebih cepat setiap bertumbuhnya generasi yang lebih muda. Jika generasi orang tua kita memerlukan reuni setiap sepuluh tahun sekali untuk dapat memamerkan diri kepada teman-teman sejawatnya, generasi kita, sialnya, diberi kemudahan untuk mengintip kehidupan orang lain dalam hitungan detik. Saya bahkan tidak tahu apakah saat ini sudah ada anak SMP yang merasa tidak laku lalu kemudian depresi ketika melihat teman sekelasnya mem-posting foto kencan di coffee shop bersama pacar baru.

Instagram yang merupakan media sosial berbasis visual, memfasilitasi proses mengenang diri tersebut dengan cara yang cepat, mudah, dan murah, sehingga dapat digunakan oleh semua orang. Untuk itu, tak heran jika Instagram kemudian lekat dengan rasa iri dan dengki (barangkali tinggal menunggu kapan MUI mengeluarkan fatwa haram). Post di Instagram kemudian menjadi semacam cara untuk membuktikan diri kepada lingkaran sosialnya. Jika hal ini benar, kemudian muncul pertanyaan: berapa banyak orang-orang yang kemudian terobsesi pada hal yang barangkali tidak memberikan kepuasan pada dirinya sendiri, melainkan hanya karena munculnya rasa iri yang didapatkan dari mengamati kehidupan orang lain dari akun instagram tersebut?

Bersama-sama, generasi ini adalah pelaku sekaligus korban dari obsesi untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain yang kemudian memunculkan kebingungan atas tujuan hidup secara berlebihan. Perasaan tertinggal yang muncul beberapa saat setelah memantau timeline kemudian menjadi sesuatu yang lumrah. Berita tentang kelulusan, pernikahan, pekerjaan, dan pencapaian dari teman-teman sejawat tak lagi menjadi berita bahagia tapi justru menjadi hal yang meresahkan.

Appreciating the Art of Self-Creating

Kebutuhan untuk mengidentifikasikan diri dengan sosok idola, membentuk citra diri untuk meningkatkan nilai jual, hasrat untuk meraih pencapaian orang lain, atau sekedar dorongan yang timbul untuk terlihat ‘lebih,’ adalah beberapa dari sekian banyak jenis motivasi yang dilakukan oleh seseorang dalam kaitannya dengan pembentukan identitas diri. Pakaian, sebagai salah satu ornamen yang sangat personal, mampu berfungsi sebagai pesan, sekaligus medium penyampai pesan itu sendiri. Sebagai salah satu kebutuhan manusia yang paling purba, pakaian berfungsi sebagai ekstensi kulit manusia untuk melindungi tubuh. Namun pada saat yang bersamaan, pakaian juga berfungsi sebagai alat untuk mendefinisikan diri secara sosial. Ia mampu mengindikasikan status sosial, profesi, afiliasi, gender, orientasi seksual, agama, ideologi, pilihan politik, emosi, dan selera seseorang.

Katakanlah anda bukan orang yang peduli dengan mode terkini, akan muncul kesempatan-kesempatan tertentu yang mengharuskan anda untuk berbusana sesuai dengan tempat atau acara yang akan anda kunjungi. Wawancara kerja misalnya, atau ketika upacara pernikahan anda sendiri.

Jika pakaian dan atribut pelengkap lainnya adalah pembentuk identitas, maka praktik membeli pakaian berarti adalah sebuah transaksi identitas. Meski tidak pernah dilakukan secara serius (kecuali jika anda pekerja dalam industri tata busana, atau selebritas yang butuh membangun citra tertentu demi kelancaran pekerjaan). Namun secara tak sadar praktik ini merupakan salah satu langkah yang akan dilakukan seseorang dalam proses membentuk identitas diri. Yang dalam hal ini, transformasi instan yang perlu dilakukan untuk mempresentasikan diri di depan orang lain.

Dalam projek ini, transaksi identitas dilakukan dengan pertukaran ide lewat medium Instagram. Kurang lebih tujuh hari sebelum acara pembukaan pameran, kami meminta audience pengguna media sosial Instagram untuk mem-posting foto dan kisah mereka tentang atribut keseharian (outfit) yang merepresentasikan identitas mereka untuk kemudian ditukarkan dengan produk yang telah kami produksi sebelumnya dalam bentuk giveaway. Foto dan kisah yang kami dapatkan inilah yang kemudian kami produksi ulang dalam bentuk atribut keseharian yang baru, untuk kemudian dapat diteruskan sebagai atribut pembentuk identitas kepada audience lain yang menginginkannya selama pameran berlangsung.

1Kane, dalam artikel “SUNDAY READING: THE SECRET LIVES OF RONALD PINN”. Diakses lewat Smithjournal.com

Faida Rachma



*Pameran ini merupakan bagian dari program Tukar Guling yang terselenggara bersama ICFAM (Jakarta).