Pages

A Spatial Pilgrimage


 "A Spatial Pilgrimage"

Artist: Army Wiratama and Stephen Sanjaya | Curator: Yuramia Oksilasari 
 January 25 - February 8 2017

Memasuki usia dua puluhan, bersamaan juga dengan tahun keempat saya dalam bangku pendidikan arsitektur, membuat saya lebih banyak melihat ke belakang dan mempertanyakan kembali pada diri sendiri mengenai hubungan pribadi saya dengan arsitektur -- yang ternyata juga banyak dilakukan oleh teman-teman lainnya. Percakapan semacam, “Tugas Akhir mending pilih topik yang disukai, jangan sekedar yang lagi trend, biar gak males waktu ngerjain.“; atau “Habis kuliah mau ke mana? Stay di Jogja atau keluar?”; hingga “Kayaknya aku udah, deh, gak mau arsi-arsi banget, ah, capek.” semakin sering saya dengar dalam keseharian, bahkan saat sekedar jam makan siang.
Fakta mengenai kehidupan saya selama empat tahun terakhir ini pun, yang tidak bisa dikatakan mulus – mungkin cenderung berkerikil, membawa saya pada pertanyaan:

“ Apa saya mau menjadi Arsitek? Kalaupun saya mau, apa saya cukup berkapabilitas untuk menjadi? Atau kalaupun saya tidak mau, yang tidak terlalu arsitektur itu yang seperti apa? ”

Pertanyaan ini pun berlanjut pada yang lebih mendasar, “ Apa itu Arsitektur? “

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia – saya memilihnya sebagai referensi yang paling dasar:
/ar·si·tek·tur/ /arsitéktur/ n 1 seni dan ilmu merancang serta membuat konstruksi bangunan, jembatan, dan sebagainya; 2 metode dan gaya rancangan suatu konstruksi bangunan
Bagi saya pribadi, definisi tersebut jelaslah sangat mengkerdilkan arsitektur itu sendiri, yang memang seringkali, secara awam, dibaca sebagai fenomena keruangan praktis yang tidak bisa dilepas dari perspektif infrastruktur: bersifat tangible (fisik) dalam wujud bangunan dan hal-hal teknis terkait lainnya.

Hal ini kemudian bertentangan dengan beberapa definisi arsitektur yang kemudian saya temukan,
Architecture begins when Engineering ends.1
“ But what is architecture? Until fairly recently, it was common to distinguish between architecture and ‘mere buildings’, but this becoming more difficult. Certainly the origins of architecture predate the first architect, who is traditionally taken to have been the designer of a stepped pyramid in Egypt. ...... 2
“ Kita sering lupa bahwa yang tak terlihat itulah, justru hakikat arsitektur yang sesungguhnya.3
Arsitektur menjadi sempit sekaligus luas, dan dekat sekaligus jauh, pada saat yang bersamaan, menjadikannya suatu hal yang rumit, yang menurut saya sangat mungkin menjadi penyebab utama banyaknya pembelajar arsitektur mundur teratur. Arsitektur menjadi terlalu serius.

Muncul pertanyaan yang lebih liar, “ Kalau memang arsitektur sedekat itu, lantas apakah semua orang bisa menjadi arsitek? “

Namun, alih-alih menjawab pertanyaan barusan, saya malah lebih menyorot kesimpulan pribadi saya mengenai arsitekur lebih sebagai fenomena spasial, yang tentunya dimiliki oleh setiap individu, baik dengan maupun tanpa latar belakang pendidikan arsitektur, bahkan sejak awal kehidupan sekalipun melalui pengalaman fetal dalam rahim Ibu, memberikan perasaan nyaman pada janin, yang terbawa pada manusia dewasa untuk mengimitasi fetal position saat merasa tidak aman.4

Tiga pertanyaan dasar itulah yang mendasari keinginan saya untuk membawa diskusi tentang pengalaman spasial ke dalam sebuah pameran. Hubungan langsung saya dengan diskursus arsitektur, bersamaan juga dengan sedikit pertemuan dengan diskursus seni rupa dalam beberapa waktu terakhir, membawa saya pada pengamatan bahwa selalu ada celah dalam dua diskursus ini, meski juga saling berkomplementer. Pertanyaan dan pernyataan dalam arsitektur memang sudah lazim dikemas dalam bentuk pameran, tentunya pameran arsitektur, yang, sejauh saya amati, dipresentasikan melalui studi maket atau miniatur – metode presentasi paling dasar dalam diskursus arsitektur, yang seringkali lebih menarik perhatian orang-orang dengan latar belakang arsitektur (bukan orang awam).

Pameran arsitektur non-arsitektur, A Spatial Pilgrimage, ini muncul lebih sebagai usaha untuk menginisiasi kembali diskusi-diskusi yang berkaitan dengan arsitektur dalam bentuk yang lebih substil, pengalaman keruangan yang coba dihadirkan kembali lewat wacana konseptual alih-alih praktikal. Dengan mengundang dua orang berlatar belakang pendidikan arsitektur, Army Wiratama (Arsitektur UII 2012) dan Stephen Sanjaya (Arsitektur UGM 2013), untuk merespon dan merekonstruksi wacana tersebut, sambil memberi waktu berhenti sejenak untuk melakukan ziarah keruangan ke kedalaman ingatan, lebih baik lagi untuk menjawab pertanyaan hubungan dengan arsitektur seperti apa yang akan dilakukan masing-masing ke depannya.

Sebagai pemantik, saya memilih pertanyaan yang lebih spesifik, “ Apa pengalaman spasial – keruangan – pertama yang masih kamu ingat sampai saat ini? “


Panjangkan Jalan Kenangan
( Army Wiratama )

Army, apa pengalaman spasial pertama yang masih kamu ingat sampai sekarang?
Sewaktu kecil di rumahku ada teras yang berundak, di mana kadang pagi-pagi aku main di sana dan menemukan lumut menempel di sisi undakan yang berdiri. Dari sana aku memiliki kebiasaan untuk mencopot sedikit lumut lalu mencium aromanya yang kebasahan, lalu memainkan teksturnya yang empuk. Jarang orang yang menyadari keberadaan lumut ini, karena sisi undakan yang berlumut tertutup oleh sisi undakan yang tidur dan terbuat dari semen. Kalau aku gak bermain-main di undakan itu, mungkin aku gak akan menemukan lumut ini dan menemukan daya tariknya.

Daya tarik yang kamu maksud seperti apa?
Hmm, menurutku lumut ini menarik, lumut sebagai tekstur dan bagian dari alam tidak memaksakan dirinya untuk menonjol ke permukaan. Seperti yang kubilang tadi, aku gak akan menemukan lumut ini kalau tidak bermain-main di undakan itu. Lumut ini seperti menekan egonya untuk muncul ke permukaan. Menekan egonya dari material lain seperti semen.


Dari percakapan ini, saya mengambil kesimpulan bahwa pengalaman spasial pertama Army – bila dikaitkan dengan diskursus arsitektur – adalah mengenai kepekaan terhadap tekstur dan material. Dalam karyanya, Army mencoba untuk menghadirkan beberapa jenis material dengan tekstur yang berbeda, yang menurut Army memiliki keistimewaannya masing-masing seperti lumut, ke dalam ruang pamer. Pemilihan Army untuk meletakkan material-material ini dengan raw di lantai, berdasar pada pandangan filosofis pribadinya, bahwa segala sesuatu tidak harus menonjolkan ego masing-masing, yang juga tergambarkan jelas melalui karya Army yang seakan memang ‘meminta untuk diinjak-injak’.

Army menantang pengunjung untuk masuk ke dalam ruang pamer tanpa beralaskan apapun, untuk merasakan sentuhan tiap material dan mengetahui pikiran-pikiran apa yang terlintas pertama kali saat pengunjung merasakannya.

Tantangan ini juga Army lakukan untuk menjawab pemahaman pribadinya mengenai parameter keberanian orang dewasa yang ia yakini jauh lebih rendah dari anak-anak, yang selalu penasaran dan antusias terhadap tantangan baru, selayaknya Army kecil yang senang mencium aroma lumut.


BAYANG(K)AN
( Stephen Sanjaya )

Stephen, apa pengalaman spasial pertama yang masih kamu ingat sampai sekarang?
Waktu kecil aku tinggal di sebuah perkampungan di daerah Jakarta Barat. Ya, biasa, anak kecil sering main-main gitu sore-sore sama temen-temen. Nah, di deket rumahku ini ada sebuah sungai, yang atas sungainya itu dibangun dua cor-coran melintang kayak jembatan dari semen. Jembatan ini menghubungkan jalan utama dengan ruang kecil yang merupakan tembok belakang rumah orang. Tembok bawahnya miring, jadi semacam pondasi talud5 gitu. Aku sama temen-temenku sering lari-lari naik turun jalan – jembatan pertama – tembok miring – jembatan kedua – jalan lagi – begitu berulang.

Asyiknya di mana?
Ya, asik aja gitu jadi lari-lari. Terutama waktu lewat tembok miring itu, larinya harus cepet banget, soalnya kalau ga lari, kan miring tuh, nanti aku malah jatuh. Apalagi mainnya sore-sore sama temen-temen.

Dari percakapan ini, saya mengambil kesimpulan bahwa pengalaman pertama Stephen – bila dikaitkan dengan diskursus arsitektur – adalah mengenai bidang yang menjadi terkait erat dengan elevasi6.
Dalam karyanya, Stephen, yang juga merupakan seorang 3D Artist / Architectural Visualizer, berusaha untuk menghadirkan pengalamannya lewat ilusi optis pada bayangan terpantul di tembok lewat pola cahaya yang ia ciptakan dari tengah ruangan. Bayangan datar dan miring yang ia ciptakan lebih sebagai rekonstruksi dari pengalaman bermainnya merasakan perubahan elevasi saat melewati jalan – jembatan pertama – tembok miring – jembatan kedua – jalan lagi, secara berulang.
Sedangkan permainan warna yang dipilih merupakan rekonstruksi dari keceriaan Stephen kecil, menikmati perpaduan warna sore hari bersama teman-teman sepermainannya.


( Yuramia Oksilasari )




1 Walter Gropius dalam Space, Time, and Architecture: The Growth of a New Tradition ( Harvard University Press: Sigfried Giedion, 1967) .
2 What Is Architecture? dalam Introduction to Architecture ( School of Architecture and Urban Planning University of Wisconsin – Milwaukee: James C. Snyder, Anthony J. Catanese, 1979), hlm. 7-8.
3 Avianti Armand, Arsitektur yang Lain (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2011), hlm. 43.
4 Sleep Position Give Personalities Clue, BBC, Mei 2009.
5 Pondasi talud: semacam pondasi yang biasa digunakan untuk membendung arus dari bantaran sungai, bentuknya miring dan cenderung berukuran besar.

6 Elevasi: perbedaan ketinggian permukaan