Pages

The Observant Club’s Fine (Art) Dining



"The Observant Club's Fine Art Dining"
Artist: various | Curator: Lir (Mira Asriningtyas & Dito Yuwono) | May 24 - June 7, 2016

------

"The Observant Club's Fine (Art) Dining" is a performative exhibition. Its role as an alternative art education become the essence of this exhibition. A number of visual art free-agents are invited on a dining party that will present edible food-based fine art. The timeline of those works in the Indonesian art history will be presented on three-course dining arrangement. When the performance is not present, a documentation and supplementary module will be exhibited as part of this work. 

-----

"The Observant Club's Fine (Art) Dining", adanya sebuah pameran seni rupa yang sifatnya performatif.  Fungsinya sebagai sebuah pendidikan seni alternatif menjadi inti dari pameran ini. Sejumlah duta seni rupa akan diundang ke sebuah jamuan makan yang menampilkan karya-karya seni berbasis makanan. Lini masa keluarnya karya tersebut dalam sejarah seni rupa Indonesia ditampilkan dalam urutan makan three-course dining. Saat pertunjukan sedang tidak berlangsung, terdapat pameran dokumentasi dan modul pelengkap bagi karya ini.



When?
Performance: May 20 – 23, 2016
Exhibition: May 24 – June 7, 2016
  
Who?
Artists: Mella Jaarsma, Agung Kurniawan, Alfin Agnuba
Curator: Lir (Mira Asriningtyas & Dito Yuwono)
Collaborators: Muhammad Abe, Fitro Dizianto, Sandi Kalifadani, Yonaz Kristy, Faida Rachma, Kurniadi Widodo
Visual Art Agents: Iwan Pribadi, Gabriella Laras, @JavaFoodie, @StreetFoodStories, @JogjaFood, Majalah Cobra, ...

Where?
Lir Space
Jl.Anggrek 1/33
Baciro – Yogyakarta

------------------------------------------


Table D’Hote Menu
--------------------------------------

Entrée:
“Pribumi – Pribumi” – Mella Jaarsma, 1998
(Crispy deep-fried frog legs served on exotic banana leaves)
(Kaki kodok goreng garing yang disajikan di atas lembaran daun pisang nan eksotis)

Main Course:
“Masya Allah, Transgenik!!!” – Agung Kurniawan, 2013
(aromatic yellow rice with omelets ribbon, black soy beans, caramelized tempe, beef floss, and shredded chicken)
(nasi kuning aromatik disajikan lengkap dengan telur dadar, kedelai hitam, kering tempe, abon, dan ayam suwir)

Beverage:
 “A Blinkered View – High Tea, Low Tea” – Mella Jaarsma, 2013
(the best quality tea produced in Indonesia, sold to be served to the upper class around the world and not usually available to the Indonesian people)
(teh kualitas terbaik yang diproduksi di Indonesia, dijual untuk disajikan ke masyarakat kelas atas dunia dan biasanya tidak tersedia untuk orang Indonesia)

Dessert:
“Cita Rasa ‘75” – Alfin Agnuba, 2014
(thin and crispy pastry sheets, caramelized with milk, served with a dash of cinnamon)
(lembaran kulit pangsit yang dikaramelisasi dengan susu, disajikan dengan sejumput kayu manis)



---------------------------------

INFO KARYA | ARTWORK INFO



“Pribumi – Pribumi” – Mella Jaarsma, 1998


"Pribumi-Pribumi" pertama kali ditampilkan pada tanggal 3 Juli 1998 di depan Gedung Agung Jl. Malioboro - Yogyakarta. Dalam penampilan ini, Mella Jaarsma mengundang tujuh 'orang asing' untuk menggoreng kaki kodok dan menyajikannya ke publik untuk membuka percakapan tentang apa yang terjadi pada warga etnis Cina saat terjadi kerusuhan di Jakarta dan Solo pada bulan Mei 1998. Selama masa kerusuhan politik dan ras di tahun 1998, warga keturunan Cina dijadikan kambing hitam oleh masyarakat Indonesia. Kemarahan masyarakat Indonesia dilampiaskan pada etnis minoritas ini. Posisi warga keturunan Cina di dalam masyarakat Indonesia berakar sejak masa kolonial; mereka adalah penengah di antara Belanda dan pribumi. Mereka menjadi pedagang dan memiliki akses untuk mengenyam pendidikan yang lebih baik. Selama kerusuhan terjadi di tahun 1998, toko-toko milik keturunan Cina dibakar, pembunuhan dan pemerkosaan juga terjadi di Jakarta dan Surakarta. Mella, yang dikejutkan oleh ledakan rasial yang begitu keras, mencoba mencari cara untuk berkomunikasi dan membuka percakapan atas apa yang terjadi dengan para keturunan Cina. Karenanya, ia memutuskan untuk bekerja dengan medium makanan. Ia menggunakan kaki kodok, karena orang cina memakan kaki kodok sementara orang muslim menganggap makanan ini haram. Hal ini menggambarkan perbedaan cara pandang budaya masing-masing. Kaki kodok juga digunakan untuk mempertanyakan perbedaan fungsi hewan dalam kebudayaan manusia. Mella membuat pertunjukan ini dengan ide bahwa makanan dan proses makan bersama dapat membuka pemahaman atas kebudayaan masing-masing sekaligus menstimulasi komunikasi dalam berurusan dengan hal-hal yang secara personal dianggap tabu serta pemaknaannya. 


--

"Pribumi-Pribumi" was performed in July 3, 1998 at Malioboro street in front of the presidential palace Gedung Agung - Yogyakarta. In the performance, Mella Jaarsma invited seven 'foreigners' to  fry frog legs and serve it to public to open up a dialogue about what happened to the ethnic Chinese during the riots in Jakarta and Solo in May 1998. During the political and racial riots in 1998, the Chinese was pointed as the black sheep of Indonesian society. Indonesian people's angers were reflected on this ethnic minority. The position of the Chinese in Indonesian society has its roots in the colonial era; the Chinese were the middlemen between the Dutch and the native Indonesians. They were the traders and got access to better education. During the riots in 1998, Chinese-owned shops were set on fire, and killings and rapes took place in Jakarta and Surakarta. Mella, shocked to see such racial outburst, looked for a way to communicate and open up a dialogue about what happened with the Chinese. So, she decided to work with food. She used frog legs, because Chinese eat frog legs, and Muslim considers this delicacy to be unclean (haram); thus revealing different cultural perceptions. Frog legs were also used to questions the different roles animals play in human culture. Mella set up the happening with the idea that food and eating together opens up understanding of each other cultures and stimulates communication in dealing with highly personal sets of taboos and interpretations.

-------------------

“Masya Allah, Transgenik!!!” – Agung Kurniawan, 2013


Dalam "Masya Allah, Transgenik!!!", Agung Kurniawan menyusun sebuah pertunjukan tentang ketahanan pangan dan mengundang penonton untuk mengikuti aksi yang dikenal sebagai ritual doa selamatan dan makan malam. Acara ini terkesan lokal namun secara ironis makanannya dibuat dengan bahan-bahan yang direkayasa secara genetis. Doa yang dibacakan oleh imam merupakan pidato presiden Sukarno saat pembukaan Institut Pertanian Bogor, 27 April 1952. Pertunjukan ini adalah sebuah peringatan pahit dan kritik atas isu-isu ketahanan pangan di Indonesia. Indonesia, seperti banyak negara berkembang lainnya di dunia, terus berjuang dengan sebuah isu penting: ketersediaan pangan bagi rakyatnya. Perdagangan global terbuka dan kecanggihan teknologi seperti sekarang ini—dengan manipulasi genetis (GMO, transgenik)—menjanjikan cara baru dan solusi untuk menghindari kelangkaan pangan. Namun masalah baru pun muncul bersamaan dengan globalisasi ekonomi dan teknologi pangan. Mulai dari ketersediaan biji, materi-materi pendukung, hingga pengetahuan tentang teknologi pangan; seluruhnya dikontrol dan diatur oleh sejumlah perusahaan multinasional. Ketahanan pangan di negara berkembang tergantung pada tangan perusahaan-perusahaan ini. Masalah ini pun menjadi semakin rumit dengan adanya kemungkinan pengaruh buruk pada lingkungan hidup—baik pada alam maupun manusianya—kesehatan pun terpengaruh oleh proses manipulasi genetis ini. Agung Kurniawan menekankan dan mempertanyakan isu ini dalam pertunjukannya yang berjudul “Masya Allah, Transgenik!!!”, yang ditampilkan dalam Jogja Biennale XII, 2013.

--

In "Masya Allah, Transgenik!!!", Agung Kurniawan orchestrate a performance about food sovereignty, inviting the audience to join the act that familiarly known as local ritual of prayer and dinner with a very local setup that ironically made by genetically modified ingredients. The prayer that the leader read was President Sukarno’s speech on the inauguration of Bogor Agricultural Institute, 27 April 1952. This performance is a bitter warning and critic towards the issues of food security in Indonesia. Indonesia, like many other developing countries in the world, continues to struggle with an important issue: the availability of food for its people. The open global trading and today’s technological sophistication – with genetic manipulation (GMO, transgenic) – promise new ways and solutions to avoid food scarcity. But, today’s economic globalization and food technology have brought new problems. From seeds procurement, supporting materials, to knowledge about food technology; are fully controlled and regulated by a handful of multinational companies. Food security of developing countries is dependent on the hand of these companies. This problem is compounded by a variety of possible adverse impacts on the environment – both nature and human – health is also affected by the genetic manipulation process. Agung Kurniawan highlights and asked this issue in his performance art, titled "Masya Allah, Transgenik!!!" (My God, Transgenic!!!), performed in Jogja Biennale XII, 2013.

----

“A Blinkered View – High Tea, Low Tea” – Mella Jaarsma, 2013


‘A Blinkered View’ adalah karya seni tentang hubungan kekuasaan antara penjajah dan yang terjajah, pemimpin dan bawahannya, mereka yang mengeksploitasi dan yang tereksploitasi. Dalam karya ini, Mella Jaarsma meneliti tentang hubungan tersebut dan sisi ekstrimnya, -seperti pelayan dan mereka yang dilayani, dan bagaimana batasan tersebut disamarkan dan diputarbalikkan. Pertunjukan itu ditampilkannya di Van Loon Museum, Amsterdam. Willem van Loon adalah co-founder dari VOC di tahun 1602 dan sejumlah generasi anggota keluarganya menempati posisi tinggi dalam perusahaan tersebut. Budaya minum teh memiliki sejarah dan konteks dengan banyak lapisan dan sudut pandang yang berbeda. Pertama kali teh diperkenalkan di Eropa adalah sekitar tahun yang sama VOC didirikan di awal abad ke-17. Hingga saat ini, teh kualitas terbaik yang diproduksi di perusahaan teh Malabar dijual untuk disajikan pada masyarakat kelas atas dunia. Teh Malabar diekspor ke Belanda dan dapat ditemukan sebagai teh kualitas tinggi di toko-toko. Sementara itu, teh yang tersedia di supermarket dan toko-toko di Indonesia adalah teh berdaun besar yang kasar.Dalam ‘A Binkered View- High Tea, Low Tea’ saat itu, terdapat 6 performer: 3 di dalam dapur dan 3 di ruang taman. Di setiap area, satu orang berdiri, satu duduk, dan satu menyajikan. Dua jenis teh disajikan di sana: teh berkualitas tinggi dan teh kasar Indonesia. Salah satu detil yang menarik adalah jika kita melihat foto-foto kolonial Belanda, kita bisa melihat bahwa pelayan berdiri sementara orang Belanda duduk ketika dilayani. Ketika pelayanan tersebut dilakukan untuk para keluarga bangsawan Ineonesia, para bangsawan tersebut duduk di kursi atau berdiri dan pelayan duduk di lantai dan harus berada di posisi lebih rendah. Pertunjukan ini adalah tentang melayani, dilayani, standar, dan selera.

--

‘A Blinkered View’ is a work about power relations between the suzerain and vassal, the ruler and subordinate, exploiter and the one being exploited. In this work, Mella Jaarsma is researching this relations and its extremes, -like the servant and the one to be served, and how these borders are blurred or reversed. The performance was presented at Van Loon Museum, Amsterdam. Willem van Loon was co-founder of the VOC in the 1602 and for numerous generations many members of the family held high positions in the company. Tea culture has a history and context with so many layers and different angles. The first introduction of tea in Europe was at around the same year that the VOC got established at the beginning of the 17th century. Until this day, the best quality tea produced in Indonesia is not available to the Indonesian people but directly exported. The first quality tea produced at the Malabar tea factory are sold to be served to the upper class around the world. The Malabar Tea exported to the Netherlands can be found as the refined ‘pick wick’ tea in the shops. Tea that we find in the supermarkets and shops in Indonesia is a rough big leave tea. In "A Blinkered View - High Tea, Low Tea", there were 6 performers: 3 in the kitchen and 3 in the garden room. At each area, one person is standing, one sitting, and one serving. Two types of tea were served: the high quality tea and the rough Indonesian tea. An interesting detail is also that looking at colonial Dutch pictures; you find the servants standing and the Dutch sitting while being served. With Indonesian nobles, the nobles are sitting on a chair or standing and the servants being placed on the floor and the servants have to be in a lower position. The performance is about serving, to be served, status, standard and taste.


-------

“Cita Rasa ‘75” – Alfin Agnuba, 2014


Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (GSRBI) merupakan sebuah gelombang perubahan dalam dunia seni rupa Indonesia yang muncul pada awal tahun 70an sebagai respon atas kejenuhan seniman muda pada masa itu atas konsepsi seni rupa Indonesia yang seakan dibangun seragam. Mengapa gerakan seni rupa yang begitu penting terlihat seakan dikesampingkan dari pendidikan seni formal di kampus merupakan pertanyaan besar Alfin. Alih-alih mencoba menjawab pertanyaan tersebut,  Alfin mencoba untuk mencari tahu dan mempelajari GSRBI melalui buku kumpulan karangan yang disunting oleh Jim Supangkat terbitan Gramedia tahun 1979. Hasilnya, ia menyajikan ide-ide dasar, pola pikir, lima jurus gerakan seni rupa baru, dan kutipan dari para tokoh dan menyablonnya di atas makanan. Hal ini dilakukan sebagai usahanya untuk membagi intisari pengetahuannya kepada teman-temannya. Dengan sentuhan humor seperti yang kerap digulirkan tentang membakar buku, menyeduh abunya untuk menjadi teh, dan meminumnya supaya pandai; Alfin menyarankan supaya hidangan ini dimakan segera supaya pengunjung memiliki pengetahuan instan atas ide-ide GSRB.  Ia menggunakan bahan alami masakan sebagai pengganti cat, kulit pangsit sebagai pengganti kertas, dan menambahkan unsur aroma serta rasa. Baginya, seni dan makanan sama-sama adalah tentang selera serta cita rasa yang sifatnya personal. Di minggu terakhir pamerannya, jual beli 'karya seni' dilakukan di kedai makanan buatan yang menjual ide, konsep, dan karya kepada khalayak umum. Ruang galeri terkadang tetap menjadi ruang pamer (saat kedainya tutup) dan terkadang menjelma kedai yang menjual makanan ringan yang lezat, bergizi, dan mencerdaskan. 

-----

Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (GSRBI) or The New Indonesian Visual Art Movement is a big wave of changes in the Indonesian artscene of the 70s as a response to young artists’ boredom to the conception of uniformed Indonesian visual art.  The biggest question of Alfin is why such an important movement would seem disregarded in the university where he is now studying about formal art education. But, instead answering his own question, Alfin start to learn about GSRBI through the essay compilation about the subject. This 1979 essay compilation was edited by a senior curator, Jim Supangkat, one of the important figures of GSRBI. As a result, Alfin start to present the basic idea, school of thought, “The Five Movements of GSRBI”, and take quotations from GSRBI’s figures to later silk-screen them onto edible ‘paper’. Alfin sees this as a way to deliver the essence of his new-found knowledge about GSRBI to his friends. This is also an in-joke with a twist of humor well known among his local circle of friends: in you want to be smart instantly, try to burn a book full of knowledge, brew the ashes, and drink them to get the ‘nutrition’ of the book. In this exhibition, Alfin suggests his friends to eat the silkscreened pastry sheet to get instant knowledge and ideas about GSRBI. He use natural edible coloring as a substitution of paint, pastry sheet as a substitution of paper, and add up flavor and aromas in his work. To him, art and food both are about personal taste. In the last week of his exhibition, he starts selling his ‘artwork’ in a ‘food stall’ inside the gallery. This food stall is not only selling edible pastry sheet with silkscreened GSRBI quotations but also selling ideas, concept, and artwork to public. The gallery can sometime be a gallery and sometime be a food vendor selling snacks that is rich in ‘nutrition’ and makes you smart. 


-------------------------------------

ARTIST PROFILE
“The Observant Club’s Fine (Art) Dining”

Mella Jaarsma
Mella Jaarsma lahir di Emmeloord, Belanda pada 9 Oktober 1960. Beliau mempelajari seni rupa di ‘Minerva’ Academy, Groningen (1978 – 1984), kemudian meninggalkan belanda untuk belajar di IKJ (Institut Kesenian Jakarta, 1984), dan ISI (Institut Seni Indonesia, 1985  - 1986), Yogyakarta, untuk kemudian menetap di Indonesia. Pada tahun 1988, bersama partnernya, Nindityo Adipurnomo, beliau mendirikan Galeri Cemeti di Yogyakarta, yang kemudian pada tahun 1999 berubah menjadi Rumah Seni Cemeti, mengorganisir pameran, projek-projek, dan residensi. Sejak 1995, beliau juga aktif sebagai board member di Cemeti Art Foundation – Yogyakarta yang kini bernama Indonesia Visual Art Archive – IVAA. Beliau juga memberikan workshop dan kuliah di Indonesia pun di luar negeri. Karyanya telah dipamerkan di berbagai pameran baik di Indonesia maupun pada acara seni internasional seperti; Soul Ties – Singapore Art Museum - Singapore, Third Asia Pacific Triennale - Queensland Art Gallery - Brisbane, I eat you eat me - Center of Academic Resources, Chulalongkorn University - Bangkok, ARS01 - KIASMA - Helsinki,  EV+A 2002 - Limerick City Art Gallery - Limerick, Gwangju Biennale - Gwangju, Site & Sight, Sculpture Square - Singapore, Open2002 - 5th International exhibition of Sculptures and Installations - Lido – Venice, Yokohama Triennale, Accidentally Fashion - Museum of Contemporary Art – Taipei, RE-Addressing Identities - Katonah Museum, New York, etc. Karyanya juga dipamerkan dalam koleksi publik utama di Queensland Art Gallery, Brisbane, Australia, the Singapore Art Museum, dan lain – lain.

--

Mella Jaarsma was born in Emmeloord, the Netherlands at 9 October 1960. She studied visual art at 'Minerva' Academy, Groningen (1978 - 1984), after which she left the Netherlands to study at the IKJ (Art Institute of Jakarta, 1984), Jakarta and at ISI (Indonesia Institute of the Arts, 1985 - 1986), Yogyakarta and stayed ever since in Indonesia. In 1988, together with her partner Nindityo Adipurnomo she founded the Cemeti Gallery in Yogyakarta , which since 1999 has changed into Cemeti Art House, organizing exhibitions, projects and residencies. Since 1995 she also has been active as a board member at the Cemeti Art Foundation – Yogyakarta , currently changed into the Indonesia Visual Art Archive –IVAA. She gives workshops and lectures in Indonesia as well as abroad. Her work has been presented widely in exhibitions in Indonesia as well as in international art events like; Soul Ties – Singapore Art Museum - Singapore, Third Asia Pacific Triennale - Queensland Art Gallery - Brisbane, I eat you eat me - Center of Academic Resources, Chulalongkorn University - Bangkok, ARS01 - KIASMA - Helsinki,  EV+A 2002 - Limerick City Art Gallery - Limerick, Gwangju Biennale - Gwangju, Site & Sight, Sculpture Square - Singapore, Open2002 - 5th International exhibition of Sculptures and Installations - Lido – Venice, Yokohama Triennale, Accidentally Fashion - Museum of Contemporary Art – Taipei, RE-Addressing Identities - Katonah Museum, New York, etc. Her work is in mayor public collections Queensland Art Gallery, Brisbane, Australia, the Singapore Art Museum, etc.

-----

Agung Kurniawan
Agung Kurniawan adalah seniman yang berdomisili di Yogyakarta, Indonesia. Ia pernah belajar arkeologi di Universitas Gadjah Mada dan sempat pula belajar desain grafis di Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Karya-karyanya dikoleksi oleh berbagai galeri dan museum, seperti oleh Singapore Art Museum, Graphic Atelier Utrecht, Deutsche Bank Jakarta, Loft Gallery, dan oleh Haden di Den Haag, Belanda. Ia terlibat dalam berbagai pameran di dalam dan luar negeri sejak 1990, beberapa di antaranya adalah Soul Ties, The Land and Her People, Singapore Art Museum, Singapura (1999); Reformasi Indonesia, Protest in Bleed 1995-2000, Nusantara Museum, Belanda (2000); Indonesia Contemporary Art, Loft Gallery, Hong Kong dan Barcelona (2004); Space & Image, Ciputra World Marketing Gallery (2010). Pameran tunggalnya antara lain adalah Sex, Lies and Drawing, Goethe-Institut (2003); dan The Lines that Remind Me of You di Kendra Gallery (2011). Ia juga merupakan pendiri Kedai Kebun Forum (KKF) dan anggota board di IVAA (Indonesian Visual Art Achieve).

--

Agung Kurniawan is an artist based in Yogyakarta, Indonesia. He studied archeology in Gadjah Mada University (UGM) and graphic design in Faculty of Visual Art, Indonesia Institute of Arts (ISI), Yogyakarta. His work has been collected by many galleries and museums, such as Singapore Art Museum, Graphic Atelier Utrecht, Deutsche Bank Jakarta, Loft Gallery, and Haden at Den Haag, Netherlands. He’s involved in various local exhibitions and aboard since 1990, some of them are Soul Ties, The Land and Her People, Singapore Art Museum, Singapura (1999); Reformasi Indonesia, Protest in Bleed 1995-2000, Nusantara Museum, Belanda (2000); Indonesia Contemporary Art, Loft Gallery, Hong Kong and Barcelona (2004); Space & Image, Ciputra World Marketing Gallery (2010). His solo exhibition including: Sex, Lies and Drawing, Goethe-Institut (2003); and The Lines that Remind Me of You in Kendra Gallery (2011). He co-founded Kedai Kebun Forum (KKF) and also work as a board member in IVAA (Indonesian Visual Art Archieve).

-----

Alfin Agnuba
Alfin Agnuba adalah perupa muda yang berdomisili di Yogyakarta, Indonesia. Saat ini ia sedang belajar di Fakultas Seni Rupa, Institut  Seni Indonesia (ISI). Alfin merupakan bagian dari Ex.Lab. #1 (Exhibition Laboratorary yang diorganisir oleh Lir Space) dan direktur dari Grafis Minggiran. Karya-karyanya dapat dilihat di http://alfinagnuba.tumblr.com/.

--

Alfin Agnuba is a young visual artist based in Yogyakarta, Indonesia. He is currently studying at Faculty of Visual Art, Indonesia Institute of Arts (ISI). Alfin is a part of Ex.Lab. #1 (Exhibition Laboratorary organized by LIR Space) and he works as a director of Grafis Minggiran. You may reach his work at http://alfinagnuba.tumblr.com/.



---

The Observant Club
The Observant Club merupakan platform riset kuratorial yang dilakukan oleh Lir. Pada setiap riset, terdapat satu tema besar yang berkaitan dengan tren seni terkini. Tema besar ini kemudian dipecah dalam beberapa proyek riset. Proyek tersebut bisa berupa pertunjukan, pameran, ataupun eksplorasi yang mendalam atas sebuah isu. Hasil akhir dari setiap tema besar riset adalah buku. Riset The Observant Club yang pertama mengangkat tema seni berbasis makanan dan proyek risetnya dilakukan dalam tiga tahapan: Calibrating Senses (2015), The Soto Project (2016) dan Fine (Art) Dining (2016).
--

The Observant Club is a curatorial research platform initiated by Lir. In every research, there will be one big theme related to the latest trend in the art scene.  This big theme is later divided into several art projects. The project can be in a form of performance, exhibition, or in-depth exploration of a certain issue. The final result of each big research theme is a book. The first research done by The Observant Club was about food-based art project and it was delivered in three projects: Calibrating Senses (2015), The Soto Project (2016) and Fine (Art) Dining (2016).