Pages

Betwixt and Between

 

“Betwixt and Between”
Group Exhibition | Curated by Mira Asriningtyas | May 29 – July 14, 2015

“Betwixt and Between” define the midway position chosen by Lir Space for the past four years. It is neither one thing nor another, and yet, at the same time.. it is one thing and another. In this exhibition, we present a glimpse of all past exhibition at Lir with a special presentation of 7 new works and an Exhibition Laboratory mini showcase.

-----


“Betwixt and Between” mendefinisikan posisi di antara yang diambil Lir Space selama empat tahun belakangan. Lir tidak bisa didefinisikan sebagai satu hal tertentu atau yang lainnya, namun di waktu yang sama, ia adalah satu hal dan lainnya. Dalam pameran ini, kami sekilas menampilkan seluruh pameran Lir selama empat tahun terakhir dengan 7 presentasi karya baru dan mini showcase atas Exhibition Laboratory. 

-----------

Betwixt and Between

“Betwixt and Between” mendefinisikan posisi di tengah yang diambil Lir Space selama empat tahun belakangan. Lir tidak didefinisikan sebagai satu hal tertentu atau yang lainnya, namun di waktu yang sama, ia adalah satu hal dan sekaligus banyak hal lainnya. Awalnya, Lir dibangun atas sebuah impian untuk membuat sebuah toko buku independen, dan sejak awal berdirinya, selalu ada banyak elemen yang berbeda di dalamnya. Dalam empat tahun, Lir berkembang dan berubah. Kami melihatnya saat ini sebagai sebuah ruang seni yang dilengkapi dengan sebuah ruang baca untuk menciptakan dan melakukan. Adanya restoran dan toko adalah usaha kami untuk berhubungan dengan khalayak yang lebih luas sekaligus menjadi sistem pendukung yang memungkinkan kami tetap mandiri. Di sana lah juga orang-orang bertemu, berbagi ide dan percakapan. Posisi 'di antara' ini juga menggambarkan lokasi di tengah garis geososial Yogyakarta. Di kota ini, wilayah Utara akrab dengan segi pendidikan dan wilayah selatan merupakan area seni. Lir memilih lokasi, yang sedikit tersembunyi, di tengah-tengah kedua hal tersebut. Kami memaknai lokasi tersebut sebagai pilihan sikap kami sebagai ruang seni lintas disiplin sekaligus ruang kreatif. Lir tidak merujuk pada tipe seniman maupun medium yang khusus, namun kami membuka pintu pada seniman visual, pengrajin, ilustrator, akademisi, peneliti, seniman-seniman yang berasal dari luar akademi seni, dan banyak lainnya. Dalam waktu empat tahun, kami telah mengadakan program yang beragam yang terdiri dari pameran perdana seniman baru hingga kesempatan untuk seniman yang telah lebih mapan untuk mencoba hal-hal di luar zona nyamannya.

"Betwixt and Between" adalah sebuah gambaran atas pameran-pameran kami sebelumnya; termasuk Ex.Lab. dan presentasi khusus dari tujuh karya baru para seniman yang sebelumnya telah berpameran di Lir. Ke-tujuh karya ini dijual sebagai penggalangan dana untuk mendukung program Lir bagi khalayak umum di masa mendatang. Ini juga merupakan perayaan ulang tahun ke-empat Lir sekaligus pertanyaan baginya.. "apa yang sudah kamu lakukan selama ini?"

-----

“Betwixt and Between” define the midway position chosen by Lir Space for the past four years. It is neither one thing nor another, and yet, at the same time.. it is one thing and another. It was first built from a dream of establishing an independent bookshop and since its early days, Lir always consists of different elements. In four years, it evolves and changes. The way we see It now, Lir is an art space with a reading room to make and do. The restaurant and the shop are our way to connect with wider audience and act as our support system in order to remain independent. It is also where people meet, share ideas and conversation.  The in-between-ness of Lir is also reflected in its location in between the geo-social axis of Yogyakarta. The city is known to have scholars nesting in the Northern part and artists residing in the Southern end.  Lir chose a location, a little bit hidden, in between the two. We are translating our location into our stance as an interdisciplinary art and creative space. Lir does not cater to a specific type of artist or medium, and rather, we open our doors to visual artists, crafters, illustrators, scholars, researcher, outsider-artist and many more. In four years, we have held a mix of programs, ranging from debut exhibition for new artists to opportunities for established artists to try something outside their comfort zone.

“Betwixt and Between” is a showcase of our past exhibition; including Ex.Lab. program and a special presentation of seven new works from artists who had exhibited at Lir. These seven new works are for sale as a fund raising event to support Lir’s public program in the near future. It is also a celebration of our fourth anniversary as well as a question to Lir.. “What have you been doing all these times?”



------------

“Lir.”


Awalnya, Lir dibuat sebagai tempat untuk menciptakan, bertemu, dan berinteraksi. Setelah empat tahun, kami berkembang dan berubah secara organik-- nyaris seperti makhluk hidup. Yang kami lakukan saat ini adalah usaha untuk memahaminya sambil bertanya-tanya..
"Lir, apa yang sudah kamu lakukan 4 tahun terakhir ini?"

-----
Agung Kurniawan (AK): Saya kira sebagai sebuah ruang, Lir itu menawarkan cara pandang seni sebagai sebuah peristiwa sehari-hari. Lir menawarkan seni sebagai lifestyle, gaya hidup. Jadi, seseorang itu tidak harus menjadi seorang yang (dalam istilah anak sastra)—tidak harus menjadi "seniman sing nggentoyong" . karena di situ ruangnya adalah ruang komunikasi. Seperti media-- kayak tumblr, kayak apa.. sehingga orang bisa membicarakan persoalan-persoalan yang bahkan belum finish. Karyanya juga belum tentu karya yang selesai. Karya-karya yang saya kira masih bersifat setengah jadi pun tidak apa-apa. Karena sifat ruangnya, kan? Kecil, intim. Sehingga seorang seniman muda terutama, tidak perlu khawatir untuk berpameran di sana. Karena nggak ada sensor ruang dan teror ruang.

Galeri itu media. Ruang itu bukan satu yang white cubes gitu ya. Saya nggak setuju dengan konsep white cubes. Di negara seperti Indonesia, ruang itu adalah media. Ruang itu adalah alat sesungguhnya. Kalau di negara barat, galeri ya galeri. Itu adalah semata-mata memamerkan apa yang kita sebut sebagai keindahan paling paripurna yang bisa dicapai oleh manusia lewat seniman. Tapi di ruang-ruang di negara2 seperti Indonesia, galeri itu media. Seperti kalau mudahnya sekarang ya sosial media, karena di situ kamu membicarakan tentang gagasan, bukan hanya persoalan artistik.  Jadi ketika setiap seniman (makanya sekarang seniman kontemporer itu tidak bicara lagi soal media lukis, grafis.. media itu terbuka), setiap tema, dan gagasan itu punya media sendiri. Nah, tugas seniman adalah menemukan gagasan dengan medianya. Itu yang harus ditemukan dan itu bukan perkara mudah. Banyak tema-tema yang gagal karena medianya kurang cocok. Dipaksa melukis padahal itu tidak bisa untuk lukisan. Dipaksa membuat performans padahal belum pas jadi performans dan lebih cocok jadi lukisan. Pokoknya gitu lah. Nah, untuk menemukan gagasan dan media itu tidak diajari. Harus melihat banyak dan mengalami banyak kegagalan juga.

Lir itu menawarkan cara pandang yang kurang lebih sama. Bahwa kamu tidak harus membuat karya yang bener-bener selesai. Bahkan karyamu masih bersifat pre-work saja bisa selama kamu bisa mengemasnya. Saya kira itu yang membedakan Lir dengan beberapa galeri lain di jogja yang kebanyakan final work yang dipamerkan.
Iwan Effendi (IE): Lir itu seperti retailer, bukan dealer. Jadi tidak pegang satu brand dengan kepentingan satu brand tertentu. Tidak merujuk pada satu perkembangan tertentu yang sangat rigid. Lebih mengikuti apa yang terjadi di anak muda sekarang. Jadi kemudian bisa diakomodir di lir. dan menurutku itu kelonggaran. Di satu sisi itu kelonggaran yang cukup enak untuk anak-anak muda memulai segala sesuatunya di sini. Maksudnya, diliat dari ruangan yang tidak besar dan kecenderungan budayanya yang tidak beda jauh. Yang akan melihat itu dilihatnya dalam jangka waktu yang cukup lama. Dari tradisi mira dan dito mengapresiasi seni itu yang akan menjadi seleranya Lir, karena ini anaknya kalian berdua. Jadi, anak ini akan bermain dengan siapa itu kan yang menetukan orang tuanya. Walaupun anaknya kadang-kadang punya pilihan sendiri tapi tetep ada lah pasti rembugan dengan anaknya,
Aku sih selalu seneng dengan hal-hal yang ada nekat bikin itu aku seneng. Sebenernya kan hal-hal yang membuat ruang, membuat kelompok, seseorang keluar dari dirinya untuk membuat ruang yang lebih besar dari dirinya itu selalu menantang. Dan aku berpikir hal-hal seperti itu tuh menarik untuk dilihat perkembangannya, ditemani, walaupun ada selera yang berseberangan. Tapi bukan soal benda yang dihasilkan, tapi soal keputusan-keputusan untuk membuat sesuatu bersama untuk kepentingan orang yang  lebih banyak, bukan cuma bikin karya untuk diri sendiri. Itu sih kenapa aku selalu tertarik. Selalu melihatnya spesial. Karena nggak semua orang mau melakukan itu. Orang kalo suruh ngasih ide pasti banyak tapi disuruh membuat.. mbuh.

Lir cukup bisa mengikutinya; maksudnya perkembangan ruang alternatif, di mana orang berkumpul dan sekedar ngobrol-ngobrol sampai kalian bisa membuat kurikulum dan bisa menggembala seniman muda. Jadi kelihatan.. “oh, dia dulu perkembangannya di sini.. lalu nanti akan berkembang lagi..”

-----

Ex.Lab.
Ex.Lab. (Exhibition Laboratory) adalah sebuah laboratorium penciptaan pameran tunggal yang digagas oleh Lir Space. Empat seniman muda dipilih untuk menjalani proses selama tiga bulan untuk mempersiapkan pameran tunggal mereka masing-masing. Dalam program ini, keempat seniman menjalani proses mentoring, kelas referensi dengan praktisi seni rupa, melakukan kunjungan ke studio seniman senior, serta menjalani persiapan pameran yang intensif. Seluruh seniman berproses untuk membuat sebuah pameran yang merupakan satu kesatuan yang utuh alih-alih membuat kumpulan dari karya-karya kecil. Ex.Lab merupakan laboratorium penciptaan yang dinamis dan akan berjalan dengan pola landasan kerja yang berbeda pada tiap angkatannya.
-----
AL: (Ex.Lab.) itu saya rasa mewakili cara pandang generasi sekarang terhadap bagaimana seni itu harus ditampilkan. Jadi, seni itu bukan semata-mata kemudian persoalan artistik tapi kemudian ada persoalan lain yang dibicarakan. Jadi bagaimana membawa seni kepada ambience cultural nya. Kalau jaman dulu lukisan siap lalu selesai. Tapi dalam praktek sekarang kan seni itu tidak bisa dianggap selesai begitu saja tapi harus didialogkan, diperdebatkan; harus diuji. Exhibition Lab itu saya kira kurang lebih sama tapi tidak bersifat se-fasis (program) Kedai Kebun. Karena kemudian yang kamu tawarkan kan dialog yang bersifat kurang lebih setara. Kalau Kedai Kebun lebih sifatnya patron dan klien. Karena faktor umur dan pengalaman, saya bisa berfungsi sebagai seorang yang sangat paedagogik dan fasis. Kalau kalian kan teman ngobrol, jadi saya kira platform perbedaannya itu aja sih: satunya teman satunya mandor. Cuma itu bedanya. Tapi saya kira outputnya atau hasilnya ga akan beda jauh karena toh metodenya sama.

IE: Seniman muda itu.. seniman selain membuat karya juga harus punya pengalaman me-manage karyanya. Setelah karyanya jadi, dia harus bisa me-manage karyanya. Ketika dia mulai membuat program dia harus bisa memanage event-nya, dia bisa me-manage publiknya, dan itu dilakukan semua harus sendiri. Dan melakukan semua sendiri untuk seniman muda itu di ruang-ruang semacam yang alternatif itu.. ruang-ruang yg cukup longgar untuk melakukan eksperimen semacam itu cukup dibutuhkan sih menurutku untuk seniman muda. Ya, karena mereka tidak cukup hanya membuat karya. Karena me-manage itu bagian dari pekerjaan seorang seniman.

Tantangan
AL: Kalau di Lir tantangannya saya kira sustain, keberlanjutan. Itu saya kira tantangan di setiap ruang yang dikelola oleh anak muda. Bagaimana membuat sustain itu bukan hanya persoalan ekonomi tapi juga persoalan konsep, ide, dan gagasan. Bagaimana sebuah ruang mampu meninggalkan jejak bagi stakeholder seni rupa di jogja atau bahkan lebih luas dari situ.

IE: Aku ga tau ya.. mungkin itu cita-cita setiap orang ketika melihat sebuah ruang di Jogja muncul, ya.. jadi ya jangan terus tutup. Segala sesuatunya itu bisa dibicarakan. Segala sesuatunya itu bisa diomongin, bisa dibicarakan. Maksudnya piye ya.. trus jadi.. “pokoknya buat saja, lah”. Karena itu yang membuat ada 'warna'. Kesannya seperti 'ada terus nih'. Ya dari dulu aku awal-awal kuliah itu ada beberapa ruang alternatif yang terus bisa jadi jujugan dan menghasilkan banyak seniman dari situ. Tapi ketika ruang itu tidak ada lalu jadi 'kok ga ada ya'. Apakah itu cuma untuk menjawab tantangan di jaman itu saja? Sebenernya itu saja sih harapanku: bahwa kemudian ada banyak pertanyaan yang bisa terjawab melalui ruang-ruang semacam ini. Pertanyaan regenerasi.. atau pertanyaan regenerasi seniman maupun audience.


Betwixt and Between
IE:Se-‘di antara’ apapun kan suatu saat harus memutuskan. Ada persimpangan yang 'ini harus ke mana'. Menurutku itu yang menjawab bisa waktu, bisa lingkungannya.

AL:Secara nyata di artscene Indonesia, yang dibutuhkan adalah skala yang lebih besar.  Jadi, kalau misalnya kamu ga punya cukup itu, yg harus dilakukan adalah melakukannya terus menerus tanpa henti sehingga orang kemudian mau tidak mau tersandung kakinya karena tersandung kerikil. Itu yang harus dilakukan. Kalau Cemeti kan jelas, misalnya, dia punya ruang besar. Cemeti sudah bukan kerikil tapi batu besar sehingga orang mau tidak mau akan melihat. Kedai Kebun tidak sebesar Cemeti tapi batunya sudah cukup besar, lah. Nah.. kalian kan baru kerikil. Jadi kalian harus terus menerus mengganggu orang jalan sehingga orang merasa 'oh, ini ada sesuatu yang harus dilihat di bawah nih’. Karena kerikil bisa ditendang, tapi kerikil bisa membuat orang kecethit juga kalau salah melangkah. Nah, itu yang harus dilakukan. Karena besar maupun kecil atau menengah itu kan pilihan, bukan karena semata-mata faktor keadaan tapi pilihan. Jadi menjadi kecil itu bukan karena kamu tidak bisa membuat besar, tapi pilihanmu untuk membuat kecil. Tentukan skalanya sendiri2. Ruang harus bisa menentukan skalanya, apa yg dia inginkan: besar, kecil, menengah, atau bahkan mati cepat. Itu pilihan. Ada kalanya mati muda itu menarik karena ada seorang romantik yang bilang bahwa usia mati muda itu adalah saat yang paling tepat. Tapi saya kira setiap ruang pasti punya penjangka, punya visi yang berbeda-beda. Karena itu lah menjadi menarik karena setiap orang berhadapan dengan visi yang berbeda di setiap ruang.

IE: keberadaan lir itu memang ada di irisan masa yang itu di mana semua orang saatnya berbagi, semua orang mulai ada regenerasi, pasar seni rupa sudah mulai sepi, terus.. apa lagi.  Pokoknya banyak orientasi yang berceceran di jalan dan banyak orang merasa ini perlu dikumpulkan serpihannya dan ditata-- walaupun mau ditata seperti apa juga kita tidak akan pernah tahu.  karena efek apa yg dilakukan generasi ini pada adik kelasnya itu selalu tidak pernah bisa diprediksi.

AL: saya suka sekali kejutan-kejutan. Menurut saya bahwa kejutan itu adalah kalau kamu membaca cerpen alurnya tidak bisa diduga di akhir. Nah, itu juga yang harus dibawa oleh seorang seniman. Sebagai penonton kan kita terbiasa untuk melihat secara linear. Kalau kita tiba-tiba dipaksa  untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda saya rasa itu yang seharusnya ditawarkan oleh seni rupa kontemporer



*diambil dari wawancara Lir dengan Agung Kurniawan dan Iwan Effendi tentang bagaimana mereka melihat Lir dalam 4 tahun belakangan ini; disusun sebagai pelengkap kuratorial pameran “Betwixt and Between”.