Pages

In Verde

 

“In Vrede”
Artist: Antonius Ipur | Curator: Mira Asriningtyas | March 8 – 22, 2015

Let's just consider this exhibition as an attempt to compose a fable. In this exhibition, Ipur tries to combine the tense between the fact and fiction, between the living and the dead, and between what is public and what is private. All of those are summarized in a peaceful resting area, in vrede.

-----

Anggap saja pameran ini sebagai sebuah usaha untuk menyusun fabel. Dalam pameran ini Ipur menggabungkan ketegangan di antara yang fiksi dengan fakta, antara yang hidup dan yang mati, dan antara yang publik dan yang privat. Seluruhnya terangkum dalam tempat peristirahatan yang damai, in vrede.




Ex.Lab. 2.4: Antonius Ipur | “In Vrede”

Antonius Ipur memiliki ketertarikan khusus pada burung dan masalah perebutan ruang di kota. Dua hal tersebut berhubungan dengan kecintaannya terhadap dunia burung dan pekerjaannya di lembaga swadaya masyarakat. Dalam mempersiapkan pameran tunggalnya, Ipur menemukan tiga keluarga yang tinggal di kompleks pemakaman tua, Kerkhoff. Kompleks ini awalnya merupakan tempat pemakaman bagi orang-orang Belanda. Seiring dengan berjalannya waktu, kompleks ini beralih fungsi menjadi kompleks pemakaman umum. Perebutan ruang publik untuk menjadi wilayah privat bukan lah hal yang aneh. Namun keputusan keluarga-keluarga tunawisma ini dalam menjadikan kompleks makam sebagai wilayah tempat tinggal menimbulkan banyak pertanyaan bagi Ipur.  Baginya, ini adalah bentuk perebutan ruang antara yang hidup dan yang mati. Rasa takut dan kesakralan makam tergantikan oleh rasionalitas dan kebutuhan. Tidak jarang bahwa kemudian yang hidup justru lebih menakutkan dibanding yang sudah mati. Mereka yang bertempat tinggal di area ini sengaja menempati makam Belanda dikarenakan beberapa alasan; pertama, makam Belanda sebagian besar memiliki atap dan berukuran besar. Alasan selanjutnya adalah karena makam Belanda hampir tidak pernah lagi dikunjungi, berbeda dengan makam-makam lainnya yang masih sering dikunjungi sanak keluarganya. Seperti halnya rumah sebagai tepat tinggal, salah satu keluarga yang tinggal di sini membuat sekat-sekat sebagai pembatas antara ruang yang satu dengan ruang lain menurut fungsinya. Terdapat juga properti memasak, peralatan makan, peralatan tidur, tempat menjemur pakaian, radio, dan lain-lain.  Salah satu keluarga ini bahkan memiliki binatang peliharaan. Mereka tinggal dan bekerja di makam tersebut dengan membersihkan area makam dan mengumpulkan kamboja jatuh lalu menjualnya. Kedekatannya dengan dunia burung membuat Ipur melihat keluarga-keluarga ini seperti ia melihat burung Emprit yang memiliki kecenderungan berkoloni, terkadang dianggap hama, memakan padi-padian, liar dan jarang dipelihara, menggunakan satu sarang bersama-sama, dan mengumpulkan berbagai benda untuk membuat sarang. Seperti burung-burung, mereka pun ‘bersarang’ di area pemakaman ini dan sesekali ‘bermigrasi’ ke tempat jauh untuk pulang ke daerah asalnya.  Sementara itu, ia membayangkan aneka rupa burung-burung yang indah terkubur di dalam sana. Ia mereka ulang foto diri dan obituari para burung-burung dari berbagai belahan dunia. Ia mengambil rupa burung Perkutut dan Gelatik untuk menggambarkan burung Jawa, Poksay dan Robin untuk menggambarkan burung Cina, White Blond untuk menggambarkan burung Eropa, dan sebuah makam indah yang berkesan baginya adalah makam orang Israel yang digambarkannya sebagai burung Kedasih yang tidak memiliki sarang, kerap merebut sarang burung lain, dan merupakan burung kematian. Anggap saja pameran ini adalah sebuah usaha untuk menyusun fabel. Dalam pameran ini ia menggabungkan ketegangan di antara yang fiksi dengan fakta, antara yang hidup dan yang mati, dan antara yang publik dan yang privat. Seluruhnya terangkum dalam tempat peristirahatan yang damai, in vrede. 

-----

Antonius Ipur has personal interest in birds and space conflict. These two interests are closely related to the birding world and his job in an NGO. In preparing his solo exhibition, Ipur met three families who live in an old cemetery area, Kerkhoff. This complex was once a cemetery area for the Dutch during colonization era. As time goes by, this complex switching function into public cemetery complex. This thing about space appropriating of public space into private space is not exactly new issue. Yet, the decision of these homeless families in making cemetery complex as a living space raises many questions for Ipur. For him, this is a strange case of space conflict between the living being and the dead. Fear and sacredness of a graveyard has faded and turned into rationality and necessity. At this point, the living being can be more frightening than the dead. Those who are living in the cemetery area deliberately choose Dutch's grave for several reasons: first, the Dutch's grave usually wide enough and equipped with roof. Second, the Dutch's grave is almost never getting family visit, unlike other Indonesian graveyard in the area. Just like a normal housing area, one of these families create impermanence 'walls' between one space to another depends on its function. There is also cooking utensils, dishes, sleeping equipment, place to dry laundry, radio, and so on. One of them even has a pet. They live and work in the graveyard by cleaning up people's grave, collect fallen frangipani and sell it. Ipur's interest in the birding scene make him sees these families the way he sees birds. In them, Ipur sees a colony of sparrow, often considered as pest, eating rice, wild and untamable, usually nest in one place together and gather small things to create their nests. Just like sparrow, they also 'nesting' in the graveyard and once in awhile they 'migrate' to a place where they came from. At the same time, Ipur imagined many varieties of beautiful birds lays in the graves. Thus, he responded by making portraits of birds as an obituary of these people from around the world that rest in peace at Kerkhoff area. He represent the Javanese as turtledove and wren, poksay and robin as the Chinese, 'white blond' bird as European birds, and a beautiful grave that belongs to an Israeli is portrayed as plaintive cuckoo bird that often has no nest, seize other people's nest, and is considered as the mythological bird of death. Let's just consider this exhibition as an attempt to compose a fable. In this exhibition, he tries to combine the tense between the fact and fiction, between the living and the dead, and between what is public and what is private. All of those are summarized in a peaceful resting area, in vrede.

*****