Pages

Contrary to Popular Belief,..

 

“Contrary to Popular Belief,..”
Artist: Putud Utama | Curator: Mira Asriningtyas | March 8 – 22, 2015

Putud was born in a Javanese family that is closely bounded with belief and myth that was told through tales and sayings. Some of this myth giving him a fundamental fear during his childhood and raise questions at the present. In this exhibition, instead of trying to answer those questions, he tries to reinterpreting the function of a psychic in the contemporary world.

-----


Putud terlahir dalam keluarga Jawa dengan segala kepercayaan dan mitos yang berkembang melalui cerita atau ungkapan sehari-hari. Beberapa di antaranya menimbulkan rasa takut yang mendasar di masa kecil dan pertanyaan-pertanyaan di masa sekarang. Dalam pameran ini,  alih-alih mempertanyakan, ia mulai mencoba menerjemahkan ulang fungsi dukun ke dalam praktek yang lebih kekinian.



Ex.Lab. 2.3: Putud Utama | “Contrary to Popular Belief,..”

Putud terlahir dalam keluarga Jawa dengan segala kepercayaan dan mitos yang berkembang melalui cerita atau ungkapan sehari-hari. Beberapa di antaranya menimbulkan rasa takut yang mendasar di masa kecil dan pertanyaan-pertanyaan di masa sekarang. Ia kerap diingatkan oleh orang tuanya untuk tidak duduk di depan pintu supaya tidak susah (mendapatkan) jodoh; atau untuk tidak duduk di atas bantal supaya tidak bisulan. Hal-hal serupa kerap tercetus dalam percakapan sehari-hari: “Jangan memakai baju hijau kalau ke pantai selatan, nanti hilang di laut”, misalnya. Beberapa di antaranya bisa dicari sisi logisnya sementara sisanya diukur dengan norma, moral, etika, menunjukkan kelas dan hal-hal yang lebih subtil lainnya. Di lain pihak, ada juga yang tidak lagi masuk akal bagi kehidupan di masa sekarang. Dari ungkapan-ungkapan tersebut, kerap muncul hubungan sebab-akibat yang menimbulkan ketakutan sekaligus permainan kata-kata, misalnya “Jangan makan tampikan (ujung sayap ayam), nanti ditampik (ditolak) jodoh”. Makna sebenarnya dari kalimat tersebut mungkin lebih mendalam dari kepercayaan semata. Ungkapan atas hal-hal yang ‘ra ilok’ (tidak pantas) ataupun pamali memiliki nilai lebih dari sekedar membuat takut. Namun bukankah hingga masa kini pun, rasa takut adalah salah satu cara untuk mengendalikan ketertiban dalam masyarakat? Masyarakat Jawa memiliki sistem budaya yang mengakar dalam sebuah komunitas tradisi yang mementingkan keharmonisan, keselarasan, dan keseimbangan hidup. Beberapa mitos ini dijaga sebagai bentuk kearifan lokal dan perwujudan kelekatan masyarakat Jawa dengan alamnya. Hal ini dikenal sebagai ilmu ‘titen’, yaitu kemampuan untuk memperhatikan kejadian-kejadian alam sebagai pertanda bagi kejadian lainnya. Umumnya, mitos semacam ini berhubungan dengan hewan atau tempat-tempat khusus di alam bebas.Putud sebagai bagian masa kini dari budaya Jawa, hanya menerima ungkapan-ungkapan tersebut sebagaimana adanya. Ia berada di dalam batas antara percaya dan tidak percaya. Dalam kegelisahannya memahami dan mempertanggungjawabkan akal sehatnya, ia mencoba melihat kembali mitos-mitos di sekitarnya dengan lebih rasional. Di waktu bersamaan, ia bertemu dengan seorang dukun dalam usaha mencari dompet yang hilang. Pada pertemuan tersebut, ia menemui banyak anak muda seumurannya yang datang mencari petunjuk dari dukun tersebut. Hal-hal yang ditemuinya pun cukup umum bagi anak muda; mulai dari hal-hal percintaan, kehilangan, hingga untuk menentukan judul pameran. Ia pun sekali lagi berada di posisi yang percaya sekaligus ragu. Namun alih-alih mempertanyakan, ia mulai mencoba menerjemahkan ulang fungsi dukun ke dalam praktek yang lebih kekinian. Ia mulai bertanya-tanya, apabila seorang dukun bisa menemukan barang hilang dan mengembalikannya kepada pemiliknya, bukankah ia berarti bisa melakukan jasa pengiriman barang kilat melalui teleportasi? Apabila ia bisa melihat ke dalam kehidupan seseorang, bukankah ia bisa menjadi seorang private investigator yang baik? Apabila ia bisa melihat masa depan, bukankah ia bisa menjadi trend forecaster yang mampu dipercaya oleh perusahaan-perusahaan gaya hidup terkemuka? Mungkinkah bahwa mitos-mitos dan hal-hal yang berbau supranatural ini sebenarnya lebih dekat dari yang kita bayangkan dengan kehidupan kita sehari-hari?  

-----

Putud was born in a Javanese family that is closely bounded with belief and myth that was told through tales and sayings. Some of this myth giving him a fundamental fear during his childhood and raise questions at the present. He often got warned by his parents not to sit in front of the door so that it will not be difficult for him to get a soulmate; or not to sit on top of a pillow so he won't get ulcer. Other sayings are often lightly brought up in his daily life: "do not wear green outfit when you're going to the southern sea, you can get missing in the sea", for instance. Some of these sayings are actually logical while the others are having more intangible value of norm, ethics, social class, and other subtle elements. In the other side, some things are no longer relevant with the world and life nowadays. From these sayings, there are often causal and effect relationship formed by word play that eventually cause terror and fear. Sometime, the real meaning of such wordplay lays deeper in the more substantial understanding rather than blind faith. A saying about things that is inappropriate has deeper value than just building fear. But even today, isn't fear built as a way to control the order in society? The Javanese people have a certain cultural system rooted in a traditional community that consider harmony and balance highly important. Some myths are well kept as a local wisdom and a form of closeness between the Javanese and their nature. This is known as an ability (or sensitivity) to pay close attention to an event and interpret it as a way to predict other (possible) upcoming event. Usually, such myths are closely related to animal and certain spaces in the wild nature. Putud as a part of today’s Javanese culture usually just has blind faith and take those sayings as it is. But deep down inside, Putud was torn apart between believing and questioning. In this urge to understand and be reasonable to his conscience, he tries to take a look back to those myths and try to rationalize things. At the same time, he met a psychic while trying to find his friend's lost wallet. During that encounter, he met many youth his age coming to this psychic to find answers from love issue, losing things, to even decide a title for art exhibition. In this exhibition, instead of trying to answer those questions, he tries to reinterpreting the function of a psychic in the contemporary world. He start to wonder, when a psychic can find a lost thing and return it to the owner, can he also become a courier through teleport? If you can see inside someone's life, can't you be a good private investigator? If a psychic can predict the future, can't he be a trend forecaster that can be trusted and used by well known lifestyle brands? Could it possibly be that myths and all things spiritual be closer than our real worlds is..

*****