Pages

Genealogy of Hope: Suratin '92


“Genealogy of Hope: Suratin ‘92”
Artist: Dimaz Maulana | Curator: Mira Asriningtyas | February 15 – March 1, 2015

The presentation of achieve and memorabilia act as a visual nostalgia about a victory, hope, and lost. It is a deliberate attempt to remember and take a look back on how the future is often shaped from things that we are passionate about. It is about how dream and love about a good game is not always about winning or losing.

-----


Presentasi arsip dan memorabilia ini menjadi sebuah nostalgia visual atas sebuah kemenangan, harapan, dan kehilangan. Sebuah upaya untuk mengingat dan melihat kembali bagaimana masa depan serta kehidupan terbentuk dari hal-hal yang membuat kita bergairah. Bagaimana impian dan kecintaan atas permainan yang baik sebenarnya bukan melulu tentang menang atau kalah.



Ex.Lab. 2.1: Dimaz Maulana | “The Genealogy of Hope: Team Suratin 1992”

Dimaz adalah seorang lulusan ilmu sejarah yang memiliki minat khusus terhadap PSIM. Ia adalah pendiri dan pengarsip dalam webzine yang menggali sejarah sepak bola Indonesia khususnya PSIM: Bawah Skor Mandala (BSM). Melalui BSM, Dimaz menyajikan arsip sejarah ke khalayak umum dengan cara yang sederhana. Dalam pameran ini, Dimaz menelusuri jejak prestasi tim PSIM muda dalam lini masa Piala Suratin. Piala Suratin adalah kejuaraan nasional untuk pemain muda (16-18 tahun) yang sudah ada sejak tahun 1966. Piala ini digelar sebagai bentuk penghormatan untuk Suratin sebagai pendiri PSSI. Pada tahun 1992, para pemain muda PSIM untuk pertama kalinya memasuki final dan meraih juara ke-dua pada Piala Suratin. Dalam pencariannya, Dimaz menemukan kisah-kisah kemenangan; kisah-kisah tentang kesempatan yang datang dan yang hilang, dan bagaimana harapan menjadi salah satu hal penting yang mengikat kesetiaan mereka pada sepak bola. Posisi juara ke-dua dalam Piala Suratin tersebut bisa menjadi sebuah titik terang bagi cita-cita dan pencapaian tim PSIM muda. Prestasi tertinggi tersebut muncul hampir 23 tahun yang lalu dan ingatan tentangnya mulai memudar. Kisah-kisah yang ditemukan membawa Dimaz ke dalam cerita personal para mantan pemain muda yang kini telah menjadi paruh baya; cerita tentang cidera yang kerap menandai akhir karir para pemain dalam tim, dan bagaimana sebagian lainnya kembali ke dunia sepak bola dengan mengambil peran-peran di luar lapangan. Presentasi arsip dan memorabilia ini menjadi sebuah nostalgia visual atas sebuah kemenangan, harapan, dan kehilangan. Sebuah upaya untuk mengingat dan melihat kembali bagaimana masa depan serta kehidupan terbentuk dari hal-hal yang membuat kita bergairah. Bagaimana impian dan kecintaan atas permainan yang baik sebenarnya bukan melulu tentang menang atau kalah. Harapan tipis yang membuat seseorang terus menjalankan yang dirasa terbaik adalah suatu hal abstrak yang sulit dijelaskan bagi mereka yang tidak memiliki perasaan serupa. At the end, a good game is a good game.

-----

Dimaz was graduated from the Department of History and he has a special interest in PSIM (local football team). He is the founder and achiever for a webzine that specialized in the history of Indonesian football and PSIM: Bawah Skor Mandala (BSM). Through BSM, Dimaz presents historical achieve to the public in simplest way possible. In this exhibition, Dimaz tries to trace the young PSIM team through the timeline of Suratin Cup. Suratin Cup is the national championship for young player (16-18 years old) since 1966. This championship is held as a tribute to Suratin, the founder of Indonesian national team, PSSI. In 1992, the young PSIM football player get to the final round for the first time and achieve the runner up position. In his research, Dimaz found stories of victory, stories of chances that turns up and missed opportunities, also how hope become that one thing to bond their devotion. Their position as a runner up in the 1992's Suratin Cup was almost like a light of hope to the dream and achievements of the young PSIM team. This so-called highest accomplishment happened 23 years ago and the memory of it is fading. The stories that Dimaz found get him to the personal history of those young team who are now in their middle-age. Stories of how injury mark the end of their career, and how some other players who is now retired make their come back by taking other parts outside the field. The presentation of achieve and memorabilia act as a visual nostalgia about a victory, hope, and lost. It is a deliberate attempt to remember and take a look back on how the future is often shaped from things that we are passionate about. It is about how dream and love about a good game is not always about winning or losing. This faint hope make people keep on doing things that they think is best for them is an abstract unexplainable matter to those who does not share mutual feeling. At the end, a good game is a good game.