Pages

Kelas Salah Jurusan


"Kelas Salah Jurusan”
Artist: Cosmas Dipta | Curator: Mira Asriningtyas | June 3 – 25 , 2014

This exhibition is about the process to find, explore, and the journey. Inside, there are small medals in the form of other people’s thesis who has already passed the big ‘stone’ that gets in their way and use them as a stepping stone to get to their dream life. The audience are invited to enter the class, sit on the bench, open the thesis, and enjoy Cosmas’ collage works.

-----

Pameran ini adalah tentang proses penemuan, pencarian, dan perjalanan. Di dalamnya terdapat medali-medali kecil berupa skripsi orang-orang yang telah melewati ‘batu penghalang’ di depannya dan melanjutkan perjalanannya menuju impian masing-masing. Penikmat pameran ini diajak untuk memasuki ruang kelas, duduk di salah satu bangkunya, membuka skripsi-skripsi yang ada di sana dan menikmati karya kolase foto Cosmas.



Ex.Lab.1.4. : Cosmas Dipta | “Kelas Salah Jurusan

“Mungkinkah saya mengambil jurusan yang salah?”. Pertanyaan itu menjadi kegelisahan utama Cosmas dalam pameran ini. Cosmas yang sedang berada di tingkat akhir masa kuliahnya mulai melihat skripsi sebagai batu penghalang besar yang menghadangnya. Ketertarikan pada fotografi membuatnya mulai mempertanyakan benar atau salahnya jurusan kuliah yang dipilihnya empat tahun yang lalu. Pertanyaan tersebut membawanya ke dalam beberapa bulan riset pendek yang mempertanyakan tentang pendidikan di Indonesia, keseragaman yang diciptakan, ide tentang kesuksesan dan kemapanan yang merupakan hasil dari sistem orde baru, serta generasinya yang banyak terpengaruh dengan ide-ide tentang penggapaian mimpi serta pekerjaan yang di luar sistem. Pada bulan ke-tiga, seluruh pertanyaan tersebut dikembalikan ke pertanyaan dasarnya tentang apakah ia mengambil jurusan yang salah dan berapa banyak orang yang dinilainya mengalami hal yang sama. Cosmas pun mulai mencari orang-orang di sekitarnya yang berhasil menyelesaikan skripsi dan kuliahnya namun tidak bekerja di bidang yang sama dengan jurusan yang diambilnya. Skripsi yang seharusnya menjadi pembuktian atas pemahaman ilmu yang didapat di masa kuliah umumnya diambil dari hal-hal yang paling menarik bagi pembuatnya. Cosmas merasa bahwa dalam hal ini skripsi terasa seperti pemenuhan persyaratan kelulusan semata, sebuah batu penghalang yang harus dilewati sebelum menjalankan kehidupan sesuai impiannya. Namun apakah betul bahwa orang-orang ini ‘salah jurusan’ atau memang perubahan pilihan karir merupakan hal yang ditemukan sepanjang jalan sebagai sebuah proses dan penemuan alih-alih kesalahan? Apakah betul ia salah jurusan di bidang IT atau justru ia salah jurusan di bidang seni? Apakah ia sedang berputar-putar di sekitar batu yang menghalangi jalannya sambil membawa kamera dan terus melakukan kesenangannya dalam memotret tanpa segera melewati batu tersebut? 

Pameran ini kemudian bisa dilihat sebagai perjalanan dan pencarian jawaban bagi Cosmas secara pribadi. Tentu saja jawabannya sangatlah pribadi dan tidak dimaksudkan untuk dibagi dalam pameran ini. Pameran ini adalah tentang proses penemuan, pencarian, dan perjalanan. Di dalamnya terdapat medali-medali kecil berupa skripsi orang-orang yang telah melewati ‘batu penghalang’ di depannya dan melanjutkan perjalanannya menuju impian masing-masing. Penikmat pameran ini diajak untuk memasuki ruang kelas, duduk di salah satu bangkunya, membuka skripsi-skripsi yang ada di sana dan menikmati karya kolase foto Cosmas yang menunjukkan passion para pemilik skripsi ini—hal-hal yang membara di dalam diri mereka. Di papan tulis yang ada di depan kelas terdapat kutipan dari Ki Hadjar Dewantoro yang menyatakan bahwa setiap anak itu berbeda. Hal itu seakan menegaskan bahwa di dalam diri ‘murid’ di kelas ini masing-masing unik, tidak bisa diseragamkan melalui sistem, dan mungkin seperti kata J.R.R. Tolkien yang sering dikutip anak masa kini: “Not all those who wander are lost”.

-----

“Did I take the wrong major?”, was the main concern that bothers Cosmas. Cosmas who is now standing at the edge of his university year, start to look at his thesis as a big stone in front of his way. His interest in photography lately makes him wonder if he took the right or wrong major four years ago. That question leads him to a three months research about Indonesian education system, the uniformity that it creates, idea of the New Order kind of success and established life, and his generation who are highly influenced by the ideas of making a dream comes true and work outside the system. At the third month, all of the questions are being brought back to the basic questions about did he or didn’t he take the wrong major and other people who he thinks have the same concern. Cosmas starts to look for people around him who had finished their thesis and their study; but do not continue to work in the same sector with the major that they took. Thesis that supposed be a verification of their comprehension about their study, usually generated from the thing that interest them the most. In this case, Cosmas feels like the thesis is only a way to graduate instead of a stepping stone in chasing what someone passionately dream about. But, is it true that those who are working at the different sector than their education means that they took the wrong major? Or is it a process they found along the way? Was Cosmas took the wrong major in the IT and supposedly took art instead? Is he walking around the stone carrying cameras instead of get done with it? 

Then this exhibition can be seen as a spiritual journey in a quest of finding his personal answer. Surely, the answer is very private and not meant to be shared in this exhibition. This exhibition is about the process to find, explore, and the journey. Inside, there are small medals in the form of other people’s thesis who has already passed the big ‘stone’ that gets in their way and use them as a stepping stone to get to their dream life. The audience are invited to enter the class, sit on the bench, open the thesis, and enjoy Cosmas’ collage works there that shows the hidden passion of the writer of the thesis: the burning fire inside each one of them. On the blackboard there is a quote from Ki Hadjar Dewantoro stating that each of everyone of us has different quality and interest. It was written to state that almost everyone who sits in this class is unique in their own way, unable to be uniformed by the system, and probably related to that saying of J.R.R. Tolkien: “Not all those who are wander are lost”.

*****