Pages

Between Media and Other Stories



“Between Media and Other Stories”
Artist: Yonaz Kristy | Curator: Mira Asriningtyas | June 3 – 25, 2014

For thirty consecutive days, Yonaz dedicates a special time in the morning to read dozens of news from the paper, online, and television. From all of those news he collected, he picked several news that triggers his curiosity and attentions.  Those news are then randomly collected and pasted onto several scrapbooks before turned into a complete series of work.

-----

Selama tiga puluh hari berturut-turut, Yonaz meyisihkan waktu khusus di harinya untuk membaca puluhan berita dari koran, berita online, dan televisi. Dari seluruh berita tersebut, ia mengumpulkan sebagian yang dirasa paling menggelitik dan menarik perhatiannya. Potongan-potongan berita tersebut dikumpulkan dalam beberapa buah scrapbook secara acak sebelum kemudian direspon sebagai sebuah rangkaian karya yang utuh.





 Ex.Lab. 1.3: Yonaz Kristy | “Between Media and Other Stories”

Selama tiga puluh hari berturut-turut, Yonaz meyisihkan waktu khusus di harinya untuk membaca puluhan berita dari koran, berita online, dan televisi. Dari seluruh berita tersebut, ia mengumpulkan sebagian yang dirasa paling menggelitik dan menarik perhatiannya. Potongan-potongan berita tersebut dikumpulkan dalam beberapa buah scrapbook secara acak sebelum kemudian direspon sebagai sebuah rangkaian karya yang utuh. Dominasi berita politik dalam pameran ini tentu saja berkaitan erat dengan rentang waktu risetnya. Tiga puluh hari pengumpulan berita tersebut dilakukan menjelang Pemilihan Umum bagi para calon legislatif. Posisi Yonaz sebagai salah satu pemilih muda pertama membuatnya bersemangat untuk mempelajari politik dari berbagai sumber yang bisa diaksesnya. Ia menghadapi pemilu dengan sedikut bingung namun bersemangat. Hal tersebut dituangkannya dalam satu bentuk karya utama: buku. Media ini dipilih sebagai cara presentasi utama karya Yonaz karena kedekatannya pada zine dan self-published book. Dalam hal ini, ruang pamer utama bukan lah ruang galeri namun buku yang diletakkan di tengah galeri. Yonaz secara pribadi memiliki sensitifitas yang istimewa terhadap kata-kata yang kemudian dimunculkan pada buku tersebut. Beberapa kata dimunculkan dari perasaan yang timbul dari mendalami teks-teks yg ada di media. Pameran ini –seperti halnya dunia ini; terasa sepi ketika pengunjung tidak membaca lebih hati-hati dan melihat lebih dekat. Kata bisa menjadi deretan huruf tanpa makna yang ketika diperhatikan dengan seksama terasa riuh dan hampir tanpa jeda. Pada hari ke tiga puluh, Yonaz menilik ulang berita-berita kumpulannya dan menemukan beberapa topik berita besar lain yang berulang kali muncul. Pertama, hilangnya pesawat MH730 yang memicu banyak teori konspirasi dan membuat menonton berita terasa sama serunya dengan melihat film action. Kedua, vonis mati bagi buruh migran Satinah yang kemudian menjadi pedang bermata dua. Ketiga, kasus tindakan asusila terhadap anak-anak di bawah umur. Ketika memasuki ruang pameran, pengunjung diajak memasuki keriuhan ruang-ruang dalam pikiran Yonaz ketika berhadapan dengan berita-berita tersebut. Di waktu bersamaan, ia mulai menyadari adanya kecenderungan keberpihakan media, dunia informasi yang terlampau cepat, dan pemirsa/ pembaca yang lebih kritis namun juga mudah lupa. Tentu saja di antara berita-berita besar tersebut terdapat cerita-cerita kecil yang bersifat lebih ringan, menghibur, dan nyaris tersisihkan di antara media dan kisah-kisah lainnya. Seluruhnya terangkum dalam ruang senyap yang riuh oleh kata-kata. 

-----

For thirty consecutive days, Yonaz dedicates a special time in the morning to read dozens of news from the paper, online, and television. From all of those news he collected, he picked several news that triggers his curiosity and attentions.  Those news are then randomly collected and pasted onto several scrapbooks before turned into a complete series of work. Looking the fact that this ‘research’ is conducted during the month of the general election, the scrapbook is dominated with political news. Yonaz standpoint as young first-voter makes him highly curious and excitedly learn about politic from all the source he can find. He responded to the politic is a puzzled sense—yet at the same time, he is very enthusiastic about it. In this exhibition, Yonaz choose to present his work in one body of work in form of handmade artist book. This media is chosen because of Yonaz’s personal relation and practice in making zine and self-published book. In this case, the gallery is only act as sideline exhibition space whereas the book that is placed in the middle of it become the main ‘exhibition space’. Yonaz who is personally own a certain degree of sensitivity to words and text shows his finest quality in this format. Some sentences are carefully crafted from his personal feeling when reading stories from the media. This exhibition—just like how it is with the world: feels quiet and hushed when audience do not read carefully and look closely. Sentences can be just like an array of meaningless words and letters; yet at the same time, it can be vivacious and restless. At the last day, Yonaz start reviewing his finding and find other stories that is considered important and repeated over and over again. First, the MH730 airplane that went missing and triggers numerous conspiration theories—making daily news almost as thrilling as watching action movie. Second, the death sentence to Indonesian migrant worker, Satinah, which is then highly politicize and become a two-heads swords. Thirds, the numerous recently-found sexual abuses to minors. Entering the exhibition space, audience are guided to enter the buzzing rooms inside Yonaz’s mind. At the same time, he start noticing certain tendency and hidden agenda of a media, the rapid flow of information, and readers who are more critical and yet easier to be oblivious. Of course, on the fourth side of the wall there are the ‘other stories’; news that is more entertaining, carefree, and almost set aside in the media and other bigger stories. All of which are summarized in a quiet room full of words.

*****