Pages

Dinas Merchandise Yogyakarta



“Dinas Merchandise Yogyakarta”
Artist: Gandhi Setyawan | Curator: Mira Asriningtyas | May 8 – 30 , 2014

In this exhibition, Gandhi imagine himself as an official representative of the government who has to wear the identity uniform; but refuse to eliminate his unique quality of self character. It was as if he is rebranding the image of Yogyakarta and create a hip and younger space that is welcoming to the people and accommodate young generations’ lifestyle.

------


Dalam pameran ini, Gandhi mencoba untuk membayangkan dirinya sebagai seorang pegawai negeri yang tetap harus mengenakan seragam identitas namun tidak ingin menghilangkan keunikan dirinya. Ia seakan melakukan re-branding bagi kota Yogyakarta dan menjadikannya ruang yang lebih muda, ramah terhadap penghuninya, dan mengakomodasi kebutuhan gaya hidup urban anak muda masa kini.




*****

Exhibition Laboratory 1 // Ex.Lab.1

Ex.Lab. (Exhibition Laboratory) adalah sebuah laboratorium penciptaan pameran tunggal yang digagas oleh Lir Space. Empat seniman muda dipilih untuk menjalani proses selama tiga bulan untuk mempersiapkan pameran tunggal mereka masing-masing. Dalam program ini, keempat seniman menjalani proses mentoring, kelas referensi dengan praktisi seni rupa, melakukan kunjungan ke studio seniman senior, serta menjalani persiapan pameran yang intensif.

Ex.Lab. 1 mencoba memperkenalkan seniman muda yang lahir di tahun 90an dengan pola penciptaan karya seni yang berbeda dengan pola kekaryaan mereka biasanya. Keempat seniman muda ini diharapkan melakukan riset kecil sebelum membuat karya, bermain-main dengan ide 'pesan di atas bentuk' serta penggunaan medium sebagai cara menyampaikan gagasan.   Dalam program ini mereka berproses untuk membuat sebuah pameran yang merupakan satu kesatuan karya yang utuh alih-alih membuat sebuah pameran yang merupakan kumpulan dari karya-karya kecil. Hal ini dilakukan tanpa mengesampingkan detil dan kecenderungan artistik masing-masing seniman muda tersebut.

Ex.Lab merupakan laboratorium penciptaan yang dinamis dan akan akan berjalan dengan pola landasan kerja yang berbeda pada tiap angkatannya.

*****

Ex.Lab.1.1: Gandhi Setyawan | “Dinas Merchandise Yogyakarta”
Prakteknya sebagai desainer grafis dan street artist membuat Gandhi mempertanyakan berbagai hal yang berhubungan dengan pemerintah kota, publik, anak muda, dan penerapan desain oleh pemerintah. Citra-citra atas stabilitas, kemakmuran, dan keindahan yang kerap terlihat dalam logo-logo pemerintah dirasa kurang pas baginya sebagai anak muda yang juga merupakan warga kota ini. Logo-logo tersebut kemudian didesain ulang tanpa menghilangkan lambang-lambang kemakmuran dan ciri khas kedaerahan yang sebenarnya. Tidak hanya melakukan apropriasi atas logo-logo pemerintah kota, ia juga menambahkan dinas-dinas fiktif yang melayani masyarakat dengan cepat dan bersih melalui Dinas Robot, Dinas Seni Publik, Dinas Lifestyle dan Dinas Sepeda. Bentuk koperasi dipilih sebagai bentuk presentasi akhir untuk kembali medekatkannya dengan institusi pemerintah. Tensi antara yang kontemporer dan konservatif kembali dipermainkan di sini. Ia mengambil lambang-lambang resmi yang diwajibkan hadir di institusi-institusi pemerintahan dan menggabungkannya dengan desain serta display yang segar. Dalam pameran ini, ia mencoba untuk membayangkan dirinya sebagai seorang pegawai negeri yang tetap harus mengenakan seragam identitas namun tidak ingin menghilangkan keunikan dirinya. Ia mengambil unsur-unsur yang wajib ada serta menambahkan atribut baru yang memberi sedikit warna serta kesan dinamis atas keseragaman tersebut. Ia seakan melakukan re-branding bagi kota Yogyakarta dan menjadikannya ruang yang lebih muda, ramah terhadap penghuninya, dan mengakomodasi kebutuhan gaya hidup urban anak muda masa kini.

-----

As a graphic designer and street artist, Gandhi  Setyawan wandering around the issue of the goverment, public, youth, and visual design used by  the goverment. He feels that the image of stability, prosperity, and beauty found in the government’s logo is no longer fit him as a young citizen. It triggers him to try redesigning the governmental logos without leaving out the symbols of prosperity and local characteristics. Not only making an appropriation of the government’s works, he also creates fictitious departments that (supposedly) serve the society in a quick and clean way through “The Robot Department”, “Public Art Department”, “Lifestyle Department”, and “Bicycle Department”. A cooperative (coop) is choosen as a form of exhibiting the work to bring it closer to the govermental image. The tension between the contemporary and the conservative are relaid here. He takes some formal symbols that are obligatory to be shown in a govermental institution such as the portrait of the president and vice president. Then, he combines them with hip and young designs and store display. In this exhibition, he imagine himself as an official representative of the government who has to wear the identity uniform; but refuse to eliminate his unique quality of self character. He takes the obligatory substances and add new attributes that give a pop of color and dinamic impression over that uniformity. It was as if he is rebranding the image of Yogyakarta and create a hip and younger space that is welcoming to the people and accomodate young generations’ lifestyle.

*****