Pages

The Question



"The Question"
Artist: Alfonsus Lisnanto | Writer: Mira Asriningtyas | July 17 – August 11, 2012

"The Question" is not only referring to the general question that become the phantom in every family gathering and wedding reception; but also refers to "The Question" ladies talks about when his lover finally asked her hand in marriage. These questions have certain pressure;  omitting the fact that love and commitment is not always mean the same thing with marriage.

-----


“The Question” tidak hanya merujuk pada pertanyaan umum yang menghantui setiap acara kumpul keluarga dan resepsi pernikahan; namun juga pada “pertanyaan itu” yang diobrolkan para wanita tentang kapan kah kekasihnya akan melamarnya. Pertanyaan-pertanyaan ini memiliki tekanan khusus; seakan mengesampingkan fakta bahwa cinta dan komitmen tidak selalu sama dengan pernikahan. 



*****


So, they are no longer two, but one. Therefore what God has joined together let man not separate. (Matthew 19:6)

*****

A big question haunt us in the mid 20s about how we should continue an independent life. The question is inseparable with the choice (in this case, it's compulsory) to get married. The decision regarding a marriage become a big stepping stone whether to start, continue, or even to change the path of life.

When one comes of age, the question is not only asked by oneself but also by everyone around: family, friend, neighbor, and even a relative. Sometime when one was stuck in this awkward situation not knowing what to say, answers such as "focusing on the career first" or "going back to school" become two of the most effective thing to say.

Instead of answering the question  jokingly, Alfonsus Lisnanto (Nanto) chose to answer the question by presenting it in his solo exhibition entitled "The Question". Such question of marriage has start occurring when he turns 26 where a lot of people around him decided to start a family. As stronger as it gets, the question makes him start worrying about many other things. When  age become the haunting issue of the ladies; other things such as education level, financial condition, and other very personal things mixed up for a man in his late 20s.

"The Question" is not only referring to the general question that become the phantom in every family gathering and wedding reception; but also refers to "The Question" ladies talks about when his lover finally asked her hand in marriage. "Has he pop the question?" silently exchanged between friends during lunchtime referring to whether her friend is finally engaged or not. It is something so easily talked about yet having a heavy burden of worry rooting at the bottom of it. These questions could contain certain pressure and omitting the fact that love and commitment is not always mean the same thing with marriage.

In his work, Nanto tries to picture his concerns about answering these questions, whether it came from within or asked by someone else. His experience in working with several materials such as paper, pulp, clay. and Styrofoam makes him freely move and play around in expressing his thoughts.

Hundreds of red knitting yard hanging on the tree shows a hard attempt of searching the long history of his partner's family tree. At some point, looking back searching for the origin of the partner become an important stepping stone in the attempt of uniting two families.

In this exhibition, Nanto shows a single gender-less white character on a wedding chair, where the visitor of the exhibition is free to seat on the empty chair next to it and respond the character as his bride/ her groom. At the other side of the room, he shows little houses as a symbol of new family and independence as the next step of building a marriage.

At the last corner of his whole work, Nanto shows a tiny single character that consists of two characters  melting together as one and having a new single tiny character. This character become the last answer people would disturbingly ask about one's status: the heir.

at the end, how beautiful it would be when the unity happen because of both side are ready and decide to get married for the sake's of the partner;s happiness instead of because the neighbor or the family start getting anxious. At the unity of two people can be perceived as a way to continue the family tree line and melting with the universe.


*****


Jadi, mereka bukan lagi dua orang, tetapi satu. Itu sebabnya apa yang sudah disatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia.  (Matius 19 : 6 )

*****

Sebuah pertanyaan besar yang menghantui kami pada usia pertengahan dua puluhan adalah bagaimana kami akan melanjutkan kehidupan yang mandiri. Pertanyaan ini tentunya tidak terlepas dari pilihan (baca: keharusan) untuk menikah. Keputusan terkait pernikahan menjadi satu pijakan besar entah untuk memulai, melanjutkan, atau bahkan mengubah haluan hidup.

Sebenarnya pertanyaan seputar pernikahan seperti ini tidak saja muncul di benak diri sendiri. Pertanyaan-pertanyaan ini pun selalu diutarakan oleh hampir semua orang di sekitar; mulai dari keluarga, sahabat, tetangga, bahkan orang yang tidak terlalu dekat. Karena tidak tahu harus menjawab pertanyaan itu seperti apa, maka berbagai alasan seperti fokus di karir ataupun ingin melanjutkan sekolah menjadi alternatif jawaban yang terbilang jitu.

Alih-alih menjawab pertanyaan tersebut sekenanya, Alfonsus Lisnanto (Nanto) memilih untuk menjawab pertanyaan ini dengan memunculkannya ke dalam pameran tunggalnya, “The Question”. Pertanyaan ini mulai muncul dalam kehidupannya di usianya yang ke-26 dengan melihat banyaknya orang-orang di sekelilingnya yang satu per satu memutuskan untuk membina rumah tangga. Semakin pertanyaan ini menguat, semakin menimbulkan berbagai kecemasan di benaknya. Ketika usia menjadi momok yang semakin menghantui kaum wanita tentang pertanyaaan ini; berbagai hal mulai dari status pendidikan, kondisi finansial, hingga permasalahan yang sangat personal lainnya seolah bercampur menjadi satu bagi pria di usia akhir 20an.

Judul “The Question” selain merujuk pada pertanyaan umum yang selalu menjadi momok dalam acara-acara keluarga, resepsi pernikahan, dan seakan menjadi ukuran keberhasilan umum dalam budaya Indonesia; juga merujuk pada istilah para wanita dalam menyebut ‘lamaran’ dalam budaya barat. “Has he pop the question?” merujuk pada pertanyaan antar sahabat apakah  kekasihnya akhirnya telah melamarnya? Sesuatu yang ringan ditanyakan dan mengandung kecemasan yang mengakar di dalamnya. Pertanyaan-pertanyaan ini terkadang terasa menekan dan mengabaikan fakta bahwa cinta dan komitmen tidak sama dengan pernikahan.

Dalam karyanya, Nanto mencoba menggambarkan kecemasan-kecemasan yang menjadi momok dalam menjawab pertanyaan seputar pernikahan ini. Pengalamannya mengolah berbagai material seperti kertas, tanah liat, dan styrofoam nampaknya membuatnya bebas bergerak serta bermain-main dalam memunculkan gagasannya.

Julur-julur benang rajut berwarna merah seolah menunjukkan pencariaanya mengenai sejarah panjang silsilah pasangannya. Pada satu titik, pencarian ke belakang untuknya menjadi pijakan penting dalam upaya penyatuan dua keluarga (dalam hal ini pernikahan dipahami sebagai penyatuan dua keluarga).

Pada pameran ini, Nanto menampilkan sebuah sosok tunggal bewarna putih dalam kursi pelaminan, di mana pengunjung bebas menjadi pasangannya dalam pelaminan merah tersebut. Pada sisi lain, ia menampilkan rumah-rumah yang menjadi tahap selanjutnya dalam membina rumah tangga. Rumah-rumah ini merupakan gambaran atas keluarga dan penyatuan keluarga; selain sebagai simbol kemandirian dalam berkeluarga.

Pada sudut terakhir dalam kesatuan karyanya, Nanto menggambarkan sebuah sosok tunggal yang terdiri dari dua sosok yang melebur menjadi satu dan mengandung sebuah sosok tunggal kecil yang baru. Sosok ini merupakan jawaban terakhir dari pertanyaan yang mengikuti pertanyaan besar mengenai pernikahan: keturunan.

Alangkah indahnya bila penyatuan tersebut adalah karena kesiapan dan keinginan yang membahagiakan; bukan karena tetangga ataupun keluarga mulai cemas. Pada akhirnya, penyatuan dua orang dipercayanya sebagai bagian dari upayanya melanjutkan garis kehidupan ke depan serta melebur dengan semesta.




(Mira Asriningtyas dan Dito Yuwono)


*****