Pages

The Last Dance / Ships Passing in the Night



"The Last Dance / Ships Passing in the Night"
Artist: Malcolm Smith | May 13 – 27 , 2012

Both series of images describe the moment when our dreams fail and hope turns into disappointment. There’s a sense of melancholy that runs through them, but there’s some humor also. We can either live in fear of our frailty and our humanity, or we can laugh about it. It is about lost opportunities, unrealized potential, and the imminent crash into reality.

-----

Kedua seri gambar yang dipamerkan memberikan deskripsi ketika mimpi-mimpi gagal dan harapan berubah menjadi kekecewaan. Terdapat sedikit melankoli di sini, tapi juga ada humor. Kita bisa hidup dalam ketakutan atas kelemahan dan kemanusiaan, atau kita bisa menertawakannya. Ini adalah tentang kesempatan-kesempatan yang hilang, potensi yang tidak disadari, dan realita yang segera membentur.



*****

INTERVIEW WITH MALCOLM SMITH

Could you tell us about your creative process?
I like to use images to tell stories. The stories I like most are the ones that reveal something about myself but also that talk more generally about what it means to be human.
I have lots of ideas for projects, but never enough time to do them all. I also love learning new techniques and tricks. Learning how to screenprint allowed me to tell stories in a whole new way. Now I’m learning how to make books and that has opened up a new way of telling stories also. 

Describe your works in 3 words?
Dark but humorous.

Could you tell us about your "The Last Dance/Ships Passing in the Night"? What's the spirit of your exhibition? Is there any specific reason of naming your exhibition that way? What's the reason?
Both series of images describe the moment when our dreams fail and hope turns into disappointment. There’s a sense of melancholy that runs through them, but there’s some humor also, which I hope you can appreciate. We can either live in fear of our frailty and our humanity, or we can laugh about it.

Ships Passing in the Night is an idiom from before the time of steam or coal powered shipping. In the era when sailing ships glided silently across the vast and lonely oceans, two ships passing close by at night might easily fail to notice each other. The phrase is often used in the context of one-night-stands, but on a deeper level, it also refers to lost opportunities or unrealised potential.

The Last Dance is the final track the DJ plays before the nightclub closes. For a few hours we had been united in the collective fantasy that the world was better and that we were its shining lights. The Last Dance signals the end of that dream, the imminent crash into reality, where we are no longer special; just ordinary.

Could you tell about how you met Lir? Why you chose Lir for your exhibition? Also your opinion about Lir?
I had been making lots of work I my studio and wasn’t really thinking about exhibiting it. Then I met Dito and Mira at a workshop I gave at IVAA in May last year. They told me they had a gap in their program because one of their artists had not finished making their work in time for their exhibition, so I took up the opportunity and put together my small show.

When I first visited Lir, it seemed like a tiny space and I didn’t think a gallery this size could be considered a ‘serious’ contemporary art space. But actually many of Yogya’s most interesting young artists have exhibited there in the past 18 months. I wondered about this for a while, and eventually I realized that, like they say, “Good things come in small packages”.

Firstly Lir space isn’t intimidating. Having a show there is not about schmoozing collectors, international curators or launching your career in the marketplace. It’s a space where you can invite your friends over and show them what you’ve been doing. Artists love showing off their work but they hate the pressure that comes with having to promote themselves.

Secondly I think the tiny size of the space allows artists to tell a story that they can’t tell in a big huge space. In a large gallery like Cemeti or even Kedai Kebun you need to have a fully formed ‘Concept’ and a range of works that explore that concept. But at Lir the size is just big enough for one simple statement. Sometimes that’s all you need.

Thirdly you can take risks at Lir that you can't take in other spaces. You can try out new media (like I did with screenprinting), explore new ideas, collaborate, experiment, innovate… There’s no expectations; Lir are not precious about their reputation, they don’t have to worry about having their funding cut, or making sales, or getting good reviews.

Mira and Dito and the community that surrounds Lir are genuinely enthusiastic about visual arts, design, ideas and society and all that they really ask of their artists is that they share their enthusiasm and contribute with the same sense of generosity.

What did you get from having your exhibition in Lir?
The best thing, and the scariest thing, was seeing my work through other people’s eyes. Its easy to just keep making images at home where I’m the only person who sees them, but when you put it on the wall and invite other people to take a look it can be quite scary. My first reaction is always the same – I want to tear it all down and run away and hide. But after a week or so I look at it and see it in perspective. I look back at that show now and think I wouldn’t change anything – it perfectly states how I was feeling and what I was thinking at that time.

Besides creating some artworks, what do you do in your daily life?
Its hard to make a living as an artist in Australia, so most artists have another job to support themselves. Ten years ago I started working as an art manager in different galleries in Australia. Over the past decade that side of my career grew and grew and as a result I had less and less time to work as an artist.

Since moving to Indonesia I’ve been able to balance the two, doing some arts management work to support myself but also usually getting a few days each week to play in my studio. I feel really lucky to be able to do that.

What is your next plan in relation to your creative process?
I’m making a screenprinted book at the moment. I discovered bookmaking when I participated in a book workshop at Lir last year, now I can’t stop making them! My current book is about naturists; it’s a bit melancholy, a bit dark and hopefully also a bit funny.



*****


WAWANCARA DENGAN MALCOLM SMITH

-Ceritakan tentang proses kreatif Anda?
+Saya senang menggunakan gambar untuk bercerita. Cerita yang paling saya sukai adalah tentang menemukan sesuatu dalam diriku namun juga yang banyak berbicara tentang apa itu arti menjadi manusia. Saya punya banyak gagasan untuk proyek, namun tidak pernah punya cukup waktu untuk mengerjakannya. Saya juga senang belajar teknik dan trik baru. Belajar untuk screenprinting membuatku bercerita dalam gaya yang sepenuhnya baru. Sekarang, saya sedang belajar tentang bagaimana membuat buku dan juga telah terinspirasi cara baru untuk bercerita.

-Gambarkan diri Anda dalam tiga kata.
+Gelap tapi lucu.

-Ceritakan tentang “The Last Dance/Ships Passing in the Night”? Apa semangat yang Anda bawa dalam pameran ini? Apakah ada alasan khusus dalam penamaannya? Jika ya, apa alasannya?
+Kedua seri ini menggambarkan saat-saat di mana mimpi kita gagal dan harapan berubah menjadi kekecewaan. Ada rasa melankolis yang mengkoyak mereka, tapi ada sedikit hal yang lucu juga, yang saya harap dapat dinikmati. Kita dapat hidup dalam ketakutan dan dalam rasa kemanusiaan kita, atau kita dapat menertawakannya.

Ships Passing in the Night adalah sebuah gambaran sebelum tenaga uap atau batubara digunakan sebagai bahan bakar. Saat jaman di mana perahu layar berlayar begitu tenangnya membelah lautan, dua kapal berlayar mendekat saat malam dan dengan mudahnya bisa saling melihat dari kedua kapal. Frasa ini sering digunakan pada konteks semalam suntuk,namun dalam tingkatan yang mendalam, hal ini juga mengacu pada hilangnya kesempatan atau potensi yang tidak dapat menjadi nyata.

The Last Dance adalah saat terakhir sang DJ memainkan musik sebelum klub malam itu tutup. Untuk beberapa jam kita telah bersatu dalam kebersamaan dan terlihatlah dunia menjadi lebih baik dan bahwa saatnya lampu berkilau. The Last Dance menggambarkan akhir dari mimpi, tabrakan yang dahsyat dalam kehidupan di mana kita tidak lagi spesial; hanyalah biasa.

-Bagaimana saat tahu Lir pertama kali? Mengapa anda memilih Lir untuk pameran? Juga apa pendapat Anda tentang Lir?
+Saya sudah lama berkutat dengan pekerjaan saya di studio dan tidak terlalu berniat untuk pameran. Kemudian saya bertemu Dito dan Mira di workshop yang saya berikan di IVAA pada Mei tahun lalu. Mereka berkata bahwa mereka mempunyai celah dalam program mereka karena salah satu seniman belum selesai mengerjakan pekerjaannya tepat waktu untuk pameran, jadi saya ambil kesempatan dan bergabunglah saya. Ketika pertama kali mengunjungi Lir, kelihatannya seperti ruang kecil dan saya agak ragu. Tetapi ternyata banyak seniman kenamaan Yogya yang menggelar pameran di sana 18 bulan terakhir  ini. Saya heran untuk sesaat, dan saya baru sadar ketika mereka berkata, “Hal bagus di mulai dari hal-hal kecil.”

Pertama-tama, ruang Lir tidak mengintimidasi. Menggelar pertunjukan di sana bukanlah tentang kolektor atau kurator level internasional atau berkarir di pasaran. Ini adalah ruang di mana kamu dapat mengundang temanmu dan menunjukkan pada mereka tentang hal apa yang telah kamu lakukan. Seniman senang memamerkan pekerjaan mereka tetapi mereka benci tekanan yang datang karena promosi yang berlebihan.

Yang kedua, saya pikir ukuran mini membuat para seniman mengungkapkan hal-hal yang tidak dapat mereka ungkapkan dalam ruang yang bsar. Dalam galeri besar seperti Cemeti atau bahkan Kedai Kebun, anda membutuhkan konsep sepenuhnya dan cakupan pekerjaan yang mengupas konsep itu. Tetapi di Lir ruangannya cukup besar untuk satu pernyataan. Terkadang, itulah yang dibutuhkan.

Yang ketiga, kita dapat mengambil resiko di Lir ketika kamu tidak punya tempat lain. Kamu dapat mencoba media baru (seperti saat saya melakukan screenprinting), mencoba ide baru, berkolaborasi, bereksperimen, berinovasi. Tak ada tuntutan; Lir memang tidak kaya akan reputasi, mereka tidak perlu khawatir akan keungan mereka terkuras atau membuat penjualan atau mendapat penikmat yang berkualitas. Mira dan Dito dan komunitasnya menghadirkan Lir yang penuh dengan antusias untuk seni rupa, desain, ide dan masyarakat dan segala yang mereka minta pada seniman mereka adalah membagi antusiasme mereka dan berkontribusi dengan rasa murah hati.

-Apa yang Anda dapat dari pameran di Lir?
+Hal yang terbaik dan paling menakutkan ketika melihat karyaku di telnjangi oleh mata orang lain. Mudah saja menggambar di rumah ketika hanya saya yang melihatmya, tapi ketika kamu menaruhnya di dinding dan mengundang orang untuk menikmatinya, hmm sedikit menakutkan. Reaksi pertama saya adalah sama-ingin kubuang semua dan bersembunyi. Tapi setelah seminggu dan seterusnya saya melihatnya dalam cara pandang lain. Saya pikir bersembunyi tidak akan merubah segalanya. Itu menyatakan perasaan saya dan berpikir pada saat yang sama.

- Selain mengerjakan karya seni, apa kesibukan Anda sehari-hari?
+Tidak mudah membuat hidup serasa di Australia, jadi kebanyakan seniman mempunyai pekerjaan lain untuk mendukung kehidupan mereka. Sepuluh tahun yang lalu saya mulai bekerja sebagai manajer di berbagai galeri di Australia. Bertahun-tahun seiring meningkatnya intensitas pekerjaan saya, semakin sedikit waktu yang saya miliki untuk berkarya sebagai seniman. Sejak pindah ke Indonesia, saya bisa menyeimbangkan keduanya, bekerja sebagai manajer sekaligus terkadang bekerja di studio. Saya sangat merasa beruntung untuk itu.

-Apa rencana Anda selanjutnya sehubungan dengan proses kreatif Anda?
+Saya sedang membuat sebuah buku screenprinting saat ini. Saya menemukan pembuatan buku saat saya berpartisipasi di workshop buku di Lir tahun lalu, sekarang saya tidak bisa berhenti membuatnya. Buku saya saat ini adalah naturis, sedikit melankolis, sedikit gelap namun semoga agak lucu.



*****