Pages

Strangely Beautiful



"Strangely Beautiful"
Artist: Sandi Kalifadani | Curator: Mira Asriningtyas | April 22 – May 6, 2012

In this exhibition, Kalifadani will lead you to a journey through the eyes of a solitary walker. Most of the pictures shown here was taken during his solitary journey of looking for serenity and stillness; a space to actually conversing with his soul.

-----

Dalam pameran ini, Kalifadani akan membawa penonton ke dalam sebuah perjalanan melalui mata seorang penyendiri. Kebanyakan foto yang ditampilkan diambilnya dalam perjalanannya mencari ketenangan dan keheningan; sebuah ruang untuk bercakap-cakap dengan jiwanya.




*****


Let me give myself over entirely to the pleasure of conversing with my soul, since this is the only pleasure that men cannot take away from me
(Jean-Jacques Rousseau)

*****

When I first stumble upon Sandi Kalifadani's work, I was spellbound by its strange beauty. It was as if I was looking into someone's dream, as if I was still in that strange place between sleeping and awaking. Maybe it was the strong vignette and the grainy effect that does it, or maybe it was the soul that he puts into these pictures that does the trick.

After spending sometime choosing his work, I find the beauty of his work very disturbing. In one way it was a little bit too 'beautiful' it's almost look ordinary. But then, I find a bit of creepiness lurking at the edge of every picture. Suddenly, things are unlike what it seems.

That juxtaposition of creepiness and beauty reflects the personal life of the artist. Sandi Kalifadani is well known as a yogi by day and a hardcore band guitarist by night. He is living a balance life between those two different worlds of stillness and noise which he both finds meditative.

In photography, Kalifadani is a passionate hobbyist who persistently took pictures using analog cameras, expired films, and experiments in any kind of techniques. He sometime travels with two or three different cameras preloaded with different kind of films to capture whatever interest him during the journey. He would choose different camera and specific films to achieve certain result he expected. From that serious consideration, we can see that although he plays with 'toy' cameras, he's not toying around.

Still in his nature of juxtaposition, the result of his photos will be a mix of unexpected combination of colors, shape, and ideas. At other times when he use red scale films, what you see at the printed photos is actually inverted: that tree at the right side that you see, is actually standing at the left side at the real life. Once again, things are unlike what it seems.

In this exhibition, Kalifadani will lead you to a journey through the eyes of a solitary walker. Most of the pictures shown here was taken during his solitary journey of looking for serenity and stillness.
The picture, "Finding Stillness" and "Spellbound" was taken after a long lonely climb up to the primordial mountain where he found a space to actually conversing with his soul. With the picture "Serene is the Mist", he’d like to bring you to walk down the misty forest where you can almost taste the peppermint wind brushing your skin. At other time, let him take you to daydream of a foggy bridge that leads to a secret world at the ‘other side’.

One thing that interests me more is the way he keeps collecting trees. At first, he did not realize this tendency. He spontaneously captures them during that tranquil moment of strolling between the woods. His compilation, "Collecting Trees" is like a travel journal containing trees from different places and time. Unlike his God-like view from the top of the mountain, the trees he collected keep him on the ground as himself.
At the end, all that solitude that he shares will leave a trail of a peculiar mood in every picture; it is something that is visible to the soul of the viewer.


(Mira Asriningtyas)


*****


Strangely Beautiful: Berkelana Melalui Mata Seorang Penyendiri

Pertama kali saya melihat karya-karya Sandi Kalifadani, saya terpesona oleh kecantikannya yang tidak biasa. Saya merasa seperti sedang mengintip ke dalam mimpi seseorang. Seakan saya sedang berada di suatu tempat asing, di antara sadar dan tidak sadar. Mungkin perasaan itu ditimbulkan oleh efek vignette dan derai dalam fotonya, atau mungkin juga, jiwa yang ditampilkan di dalam foto tersebut lah yang menimbulkan perasaan asing dan rawan.

Setelah menghabiskan beberapa saat memilih dan mengumpulkan karyanya, saya sempat terganggu oleh keindahan dari foto-foto karya Kalifadani. Beberapa foto terlihat 'terlalu' indah sehingga nyaris terlihat biasa. Namun kemudian saya menemukan sedikit kengerian yang terasa rawan dan mengancam di dalamnya. Perasaan itu seakan berkelebat di ujung pandangan dalam setiap foto. Tiba-tiba, setiap foto terasa berbeda dengan yang terlihat sebelumnya.

Juktaposisi antara kengerian yang asing dan keindahan tersebut merupakan cerminan dari kehidupan personal pembuatnya. Sandi Kalifadani dikenal sebagai seorang guru yoga sekaligus seorang gitaris band hardcore. Kehidupan yang harmonis antara keriuhan dan ketenangan tersebut baginya dirasa sebagai suatu hal yang meditatif.

Karakteristik juktaposisi yang terbangun tanpa sadar di dalam dirinya memberi kombinasi yang tak terduga dalam fotonya, baik dari bentuk, warna, maupun ide. Pada saat-saat tertentu, apa yang terlihat di hasil foto yang tercetak sebenarnya berbeda dari apa yang ada sebenarnya. Sekali lagi, yang terlihat bukanlah kenyataan yang ada.

Dalam ranah fotografi, Kalifadani yang keberatan disebut sebagai seorang fotografer adalah seorang hobbyist yang terus menerus mengambil foto dengan kamera analog, film yang kadaluarsa, dan rajin bereksperimen dengan berbagai tehnik baru. Terkadang ia bepergian dengan dua atau tiga kamera yang berbeda untuk menangkap kesan dan hasil yang juga berbeda dari setiap foto. Pilihan-pilihan tersebut menunjukkan betapa walaupun ia menggunakan kamera 'mainan', ia tidak sedang bermain-main. 
Dalam pameran ini, Kalifadani akan membawa kita ke dalam sebuah perjalanan melalui mata seorang penyendiri. Kebanyakan foto yang ditampilkan merupakan oleh-oleh perjalanan seorang diri dalam pencarian ketenangan dan keheningan.

Dua foto, "Finding Stillness" dan "Spellbound" diambil setelah pendakian panjang ke puncak gunung purba dimana Kalifadani menemukan ruang untuk bercakap-cakap dengan jiwanya. Dalam foto "Serene is the Mist" ia ingin membawa kita ke dalam sebuah perjalanan menyusuri hutan berkabut di mana kita bisa merasakan angin yang dingin dan segar menggelitik di tiap sisinya. Di waktu yang lain, ia ingin mengajak kita untuk berkhayal akan keberadaan sebuah dunia lain di sisi sebuah jembatan berkabut tebal.

Satu hal yang menarik saya adalah betapa Kalifadani terus mengumpulkan foto pohon yang pada awalnya dilakukan tanpa sadar. Kompilasi "Collecting Trees" merupakan sebuah jurnal perjalanan dari waktu dan tempat yang berbeda. Tidak seperti ketika dia membayangkan dirinya sebagai Tuhan di atas puncak gunung purba, dalam foto-foto pohon ini dia menjaga kakinya tetap berpijak pada tanah sebagai dirinya sendiri. Pada akhirnya, seluruh kesendirian yang dibaginya akan meninggalkan perasaan rawan yang aneh pada setiap karya.

Selamat menikmati.



(Mira Asriningtyas)



*****


INTERVIEW WITH SANDI KALIFADANI

-Would you share your creativity so far and the process of preparing the exhibition at Lir?
+I did not intend to do the process making an exhibition purposely. Its spirit is going and playing around with toy cam. I love landscape: outdoor, mountain, and beaches. Those photos are the result from 1.5 years journey. Then I see that there is the same feeling in every photo. It seems interesting to have an exhibition about it. In addition, there is an offer from Lir (Mira). The fun thing is that those photos are succeeding to bring my mood to the exhibition. The atmosphere of stillness, a meditation: that I think its presence relates to my activities as a yoga trainer.

-Strangely Beautiful is a compilation of the tree-photos. Why do you choose trees as your object?
+Because trees are objects that often surrounded the nature. And I always like trees. Trees are always interesting to take picture from variant angle. They can visualize different entities. The other personal reason is that tree is visualization from the yoga’s motion.

-Photos in Strangely Beauty are taken with analog camera, so do you’re other artworks. Is there any particular reason choosing analog? Why?
+Yeah, there are some particular reasons I choose the analog camera. Firstly, I think that the photo result from the analog camera cannot be replaced with the digital camera. Secondly, I have some analog cameras, which are not expensive, but they have their own characteristics. Thirdly, I like the analog process which is more complicated, but it presents fun thing and give the interesting pictures indeed. Finally, because I use toy cam, I am happy with the situation where I am not trapped in a serious photography. Just like I am playing around, but actually I do it seriously.

-Does Strangely Beautiful affect the next creativity?
+Exactly. Moreover, Strangely Beauty is my first single exhibition.

-What will you do after the Strangely Beautiful? Is there any special plan relate to the next creativity?

+After Strangely Beautiful, I will keep photographing. I will keep going, here and there. So, yeah, I plan not to stop taking photos. Even tough the result from the activity is not always in the shape of exhibition. I imagine that the result can be formed in limited edition book, or even postcards. With this, my artwork is not only seen as photos as but more than photos.


*****


WAWANCARA DENGAN SANDI KALIFADANI

-Bisa bagi cerita soal proses kreatif selama ini dan proses mempersiapkan pameran di Lir?
+Bukan berproses untuk sengaja bikin pameran. Semangatnya jalan-jalan dan main-main dengan toycam. Saya suka landscape. Outdoor, gunung, pantai. Foto-foto itu hasil dari 1 ½ tahun perjalanan. Saya lalu melihat ada perasaan yang sama di hampir tiap foto. Itu yang kayaknya menarik untuk dibuat pameran. Ditambah ada ajakan dari pihak Lir (Mira). Yang menyenangkan adalah foto-foto itu berhasil membawa mood saya ke pameran. Suasana kesunyian, meditasi. Yang saya pikir kehadirannya berkaitan dengan aktivitas saya sebagai pengajar yoga.

-Strangely Beautiful adalah kumpulan foto-foto pohon. Kenapa memilih pohon?
+Sebab pohon adalah objek yang paling sering muncul di alam. Dan saya selalu suka pohon. Pohon selalu menarik untuk difoto dari berbagai angle. Ia bisa menampakkan wujud yang berbeda-beda.  Alasan personal lainnya adalah, pohon merupakan visualisasi dari gerakan yoga.

-Foto-foto dalam Strangely Beautiful diambil dengan kamera analog, begitu pun beberapa karya kamu lainnya. Ada alasan khusus memilih analog? Apa?
+Ya, ada beberapa alasan khusus memilih kamera analog. Yang pertama, hasil foto dari kamera analog, menurut saya, tidak bisa digantikan oleh kamera digital. Kedua, saya punya beberapa kamera analog yang harganya tidak mahal tapi masing-masing punya karakteristik tersendiri. Ketiga, saya suka proses analog yang lebih rumit, memang, tapi menyenangkan dan bisa menghasilkan foto-foto yang menarik. Terakhir, sebab saya memakai toycam, saya senang dengan keadaan yang tidak terjebak fotografi yang serius. Seakan main-main, tapi sebenarnya menjalankannya tidak main-main.

-Apakah Strangely Beautiful berpengaruh dalam proses kreatif berikutnya?
+ Jelas. Apalagi sebab Strangely Beautiful itu pameran tunggal pertama saya.

-Yang dilakukan setelah Strangely Beautiful? Apa rencana khusus terkait proses kreatif?
+Setelah Strangely Beautiful saya tetap motret. Saya tetap jalan-jalan, sana-sini. Jadi, ya, rencananya tidak berhenti untuk memotret. Meski hasil dari aktivitas memotret itu tidak harus selalu dalam bentuk pameran. Saya membayangkan hasilnya bisa berupa limited edition book¸bisa postcard. Sehingga karya saya tidak hanya diliat sebagai foto. Tapi juga yang melebihi foto. 


*****