Pages

Spoken Belief




"Spoken Belief"
Artist: Alphabeta Journal | December 12 – 24 , 2011

Alphabeta Journal is a group of literature enthusiast. In this exhibition, they try to take a look back to Indonesian folklore and invite young artists to create visual interpretation of it.

-----


Alphabeta Journal adalah sekelompok penggemar sastra. Dalam pameran ini, mereka mencoba melihat ulang cerita rakyat Indonesia dan mengundang seniman-seniman untuk menciptakan interpretasi visual atas hal tersebut. 

*****

INTERVIEW WITH ABRAHAM UTAMA


-Could you tell us about what Alphabeta Journal is?
+Alphabeta Journal is a journal web contained some issues. The main issues are politic, music art, film, photography, and there are also literature and writing. The website is alphabetajournal.com.

-Alphabeta Journal means a group of people. So, what is creativity that the people there do? Could you tell us?
+Actually journal web is open. Its tagline is 'freedom writer'. So, everyone can write. There are editing and curate process. So, not every post is directly published. We also have fixed and temporary contributors. So, how to be a fixed contributor? They at least should have sent five articles or writings and they sent it periodically, not as they like to.

-I noticed that there is a curatee system; could we know about how is the curate?
+So, every rubric has the different curator. They later decide whether the writing sent by people is proper to publish or not.

-As one of the founders Alphabeta Journal, could we know why you have the idea pioneering Alphabeta Journal?
+Because, firstly we are bored with the existed media. We are fed up of watching an issue is objected from an angle or the existed objection is too main stream. So we want to try to give another view to people else. So, if we see an occasion, we do not only see it from A, B, C, or D sides but there are other sides. Secondly, the distinctive feature to other websites is because we are formed as journal, so it is deeper. I did not mean it as an academic journal but it is deeper.

-How about the exhibition process at Lir?
+The exhibition at Lir is folklore visualization, the legends of Indonesian society. It is embodied in a shape of picture. Dealing with the preparation of the exhibition, technically it is a bit cramped. For example: an artist is provided two folklores to visualize and just given a month to do it. After that, it enters the curate, and then finally we do installation. Because the time is limited and we are still in learning to have exhibition actually. So there it goes.

-Why did folklore?
+The idea to lift up folklore into the shape of exhibition is coming up after the brainstorming with Dito and Dimas from Lir. But previously, we have our own idea too. Brainstorming aims to sharpen our idea. Why folklore? Actually, folklore is a deviation from our literature rubric in. Before the writing, folklore was existed. But nowadays folklore is started to fade away. So, we tried to lift up it again so, people in common remind it and those who never know can learn about it. To make them easier to remember folklore, we choose the visualization way. For example, story A. People will memorize, “Ooo, so story A is these pictures.” So they can remember it easier.

-How about the choosing of folklore?
+So, every region, at least is represented by folklore. There is a past research and its coverage is the whole Indonesia.

-And the final chosen media is in the shape of paintings. So, why does paintings?
+Because truthfully there are some options at that time. There are photography, paintings, and music. Finally the chosen ones are paintings and music. I forget what the reason the time before is. It is clear that the exhibition consisted two sessions, and two weeks. The paintings exhibition is the first, and then inside it there is music session, folklore musical. For folklore musical, Scoopnature performs for it.

-When you are holding the exhibition at Lir, are the people working in alphabetajournal.com invited?
+The previous exhibition is open but we also invite some of friends to join it. So, there are those who are special invited and there are some who collect artworks after we make information of the exhibition. At the end, there is also a curate process. So, the artworks are filtered.

-Why do you choose Lir as an alternative space?
+Lir is chosen for friend’s recommendation. At the beginning, we look for a space indeed. We search for place which is matching to the concept ant not too noisy, both in visual and sound. At last, a friend of mine suggests Lir and we agree.

-What the impact of having exhibition at Lir?
+After having the exhibition here, what we feel, not the impact is there are so many things we gained. Firstly is the learning process from each person in the exhibition, both technically and concept. We also have more friends after that. But the tastiest thing is the learning process itself.




*****



INTERVIEW DENGAN ABRAHAM UTAMA

-Bisa ceritakan apa itu Alphabeta Journal?
+Alphabeta Journal itu sebuah web jurnal yang berisikan beberapa isu, isu utama seperti politik, seni macam musik, film, fotografi, dan ada juga seperti sastra dan tulisan. Websitenya alphabetajournal.com.

-Alphabeta Journal berarti sekelompok orang. Nah, proses kreatif orang-orang yang ada di sana itu seperti apa? Bisa diceritakan?
+Sebenarnya web jurnal ini sifatnya terbuka. Karena taglinenya itu sendiri adalah freedom writer. Jadi, semua orang bisa menulis. Tapi, ada proses semacam editing atau kurasi tulisan. Jadi gak setiap tulisan yang masuk langsung diterbitkan. Kita juga memiliki kontributor tetap dan penulis lepas. Nah, gimana caranya untuk jadi kontributor tetap itu? Mereka minimal sudah harus menulis lima artikel atau tulisan dan mereka mengirimkan tulisan-tulisan itu secara berkala, gak sesenangnya.

-Tadi ada sistem kurasi, aku boleh tau sistem kurasinya seperti apa?
+Jadi, setiap rubrik memiliki kurator yang berbeda. Mereka ini yang nanti menentukan apakah karya yang dikirimkan oleh orang-orang layak diterbitkan atau tidak.

-Sebagai salah seorang pendiri Alphabeta Journal, boleh tau kenapa punya ide untuk membuat Alphabeta Journal?
+Karena, pertama, kita bosan sama media-media yang udah ada. Kita bosan melihat satu isu cuma dilihat dari satu sudut pandang atau sudut pandang yang sudah terlalu biasa. Jadi kita pengen nyoba untuk memberikan satu sudut pandang lain.  Jadi, kalau melihat satu peristiwa itu gak cuma dari A, B, C, atau D gitu. Tapi banyak sisi-sisi lain. Yang kedua, yang membedakan kita dengan web-web lainnya, karena kita bentuknya jurnal, jadi lebih mendalam. Gak dalam bentuk jurnal ilmiah sih. Tapi mendalam.

-Bagaimana cerita tentang proses pameran di Lir?
+Pameran di Lir itu adalah visualisasi folklore, cerita-cerita rakyat Indonesia. Divisualisasikan dalam bentuk lukisan. Kalau proses persiapan pameran secara teknis agak tersendat-sendat. Sebab misalnya, satu seniman itu diberikan dua folklore untuk divisualisasikan dan diberi waktu sebulan lebih untuk pengerjaan. Setelah itu masuk kurasi, terus akhirnya kita instalasi. Karena waktu mepet dan kami masih belajar berpameran juga sebenarnya, yah itu tadi, agak tersendat-sendat.

-Kenapa folklore?
+Ide untuk mengangkat folklore ke dalam bentuk pameran itu hadir setelah brainstorming dengan mas Dito dan Dimas, dari Lir. Tap sebelumnya kami sudah ada ide juga. Brainstorming berfungsii untuk mengerucutkan ide kami. Kenapa folklore? Karena folklore itu sebenarnya salah satu turunan dari rubrik kita, rubrik Sastra. Sebelum tulisan ada folklore. Tapi sekarang folklore udah mulai ditinggalkan. Nah, kita coba untuk mengangkat itu lagi supaya orang-orang awam itu kembali ingat dan yang belum tau jadi tau. Untuk memudahkan mereka mengingat folklore dipilihlah cara visualisasi. Misalnya, cerita A. Orang akan ingat, “Cerita A itu yang gambarnya begini loh.” Jadi mereka bisa ingat, lebih mudah ingat.

-Pemilihan folklorenya bagaimana?
+Jadi, tiap daerah, paling tidak diwakili satu folklore. Ada riset dulu dan cakupannya seluruh Indonesia.

-Dan medium yang dipilih akhirnya kan dalam bentuk lukisan. Nah, kenapa lukisan?
+Sebenarnya ada beberapa opsi medium waktu itu. Ada fotografi, ada lukisan, ada musik. Akhirnya yang dipilih lukisan dan musik.  Saya juga lupa apa alasannya waktu itu. Yang jelas, pamerannya itu ada dua sesi, dua minggu. Pameran lukisan dulu baru kemudian di tengah pelaksanaan pameran lukisan ada sesi musik, musikalisasi folklore. Untuk musikalisasi folklore  yang menampilkan dari scoopnature

-Ketika mengadakan pameran di Lir, apakah orang-orang yang selama ini beraktivitas di alphabetaournal.com diajak?
+Pameran kemarin itu juga bersifat terbuka tapi kita juga mengundang beberapa teman untuk ikut dalam pameran. Jadi, ada yang diundang khusus dan ada yang mengumpulkan karya setelah kita membuat pemberitahuan akan berpameran. Pada akhirnya ada proses kurasi juga. Jadi, karya-karyanya tetap tersaring.

-Kenapa berpameran di Lir?
+Lir dipilih sebab rekomendasi dari teman. Awalnya kami memang nyari tempat untuk pameran. Kami nyari tempat yang cocok dengan konsepnya dan tidak terlalu berisik, baik berisik visual maupun suara. Akhirnya, teman menyarankan Lir dan kami ambil saran tersebut.

-Apa dampak pameran di Lir ke Alphabeta Journal sendiri?
+Setelah pameran di sini, yang kami rasakan, bukan dampak sih, banyak hal yang kami dapatkan. Pertama, proses pembelajaran dari masing-masing individu dalam berpameran. Baik dari proses konsep juga teknis. Yang jelas teman kami juga jadi bertambah setelah berpameran. Tapi yang paling terasa yah proses pembelajarannya itu.



*****