Pages

Power of the Sun




"Power of the Sun"
Artist: Prihatmoko 'Moki' Catur | Curator: Mira Asriningtyas | September 9 – 30 , 2012

For "Power of the Sun", Moki made 12 band posters that consist of Yogyakarta's band that represents many genres. This exhibition is his attempt to encounter the graphic art and music; which has actually been walking side by side but having a questionable commitment of each other's appreciation.

-----

Untuk “Power of the Sun”, Moki membuat 12 poster band yang terdiri dari interpretasinya atas band-band Yogyakarta dari berbagai genre. Pameran ini adalah usahanya untuk mempertemukan seni grafis dan musik yang selama ini berjalan beriringan namun memiliki komitmen dan apresiasi satu sama lain yang dipertanyakan.



*****


Power of the Sun: the Privilege for All!

Emerge at the era after the visual art boom makes Prihatmoko "Moki" Catur start out as a high value young artist even since his first solo exhibition. Instead of making him swoon, this thing brought a lot of concerns and questions about processes. Process is one thing he learns reversely right after his surprise about the art market. Even the fact that he was born from a family with a strong art background who let him get art lesson from a quite young age, the feeling of being born too fast makes Moki keeps on reprocessing, keep on trying to find the meaning, and experimenting on many different medias.

That's how he start making some collaborative works, artist merchandising, making comics and artbooks, and even doing some performance artwork in alternative art spaces. For him, there is a different school of thought in making an artwork in commercial galleries and alternative art spaces. As an artist, he feels like he needs to have a certain attitude to present his opinion by his art works in his very own way. His choice of location points at Lir Space for his latest project as a way to find a place to experiment on 'the art market' at the (very) small scope.

In "Power of the Sun" exhibition, Moki made 12 band posters consist of Yogyakarta's band that represents many genres. The design of the poster was Moki's personal visual interpretation of the bands he chose. Not only having a personal relationship with the band; Moki is an active member in five (Punkasila, Airport  Radio, Black Ribbon, Shopping List, dan The Wonosari) out of twelve bands he responded.

The posters were made by using silk screen technique which marks his signature style. He chose this technique for its ability to be reproduces without losing the handmade feel and characterize aesthetic value. There is no same copy of each work. This imperfection differ the result of silk screen work and digital printed poster. Aside from that, Moki feels blessed by living in the tropical world where the sun shines all year long and make the process of screen printing easier. He called this privilege as "Power of the Sun".

Moki himself is used to do a work based on the things that has personal relation with him; in this case it means music, silk screen, and Jogja. This exhibition is his attempt to meet the graphic art and music; which has actually been walking side by side but having a questionable commitment of each other's appreciation.

This situation is considered unique because it seems like it only happen in Jogja, the city of Do-It-Yourself. With all the capable maker and creator, there is always an ego and a reason to make things oneself rather than buying. In some cases, the exchanging system or the unique habit of helping each other happen in a very understanding way. This time, Moki even let people hold the privilege to decide the price he/she is willing to pay for an art work. Each of this posters will be printed in 20 copies and the 'art market' who came to this show; whether he/she is a musician, university student, or full-time housewife has the same right to choose and decide the price he/she wants to pay for it. This is how the artist experiment on the alternative art market which is done with a dash of humor that Moki always add to every artwork he made.

Now, happy shopping and enjoy the privilege to name your own price!



*****


Muncul pada era paska boom seni lukis membuat Prihatmoko Moki ‘terlahir’ sebagai seniman dengan 'nilai' yang tinggi sejak pameran tunggal pertamanya. Alih-alih membuatnya terlena, hal ini membuatnya menyimpan banyak kegelisahan dan berbagai pertanyaan tentang proses. Proses merupakan suatu hal yang dipelajarinya secara terbalik tepat setelah keterkejutannya atas pasar seni rupa itu sendiri. Meskipun berasal dari keluarga seni dan mengenyam pendidikan seni sejak dini, perasaan ‘terlahir’ terlalu cepat itu lah yang membuat Moki terus berproses ulang, mencari makna, dan bereksperimen dengan berbagai media. 

Hal tersebut mendorongnya membuat beberapa karya kolaboratif, artist merchandising, membuat komik dan buku,hingga karya performance di ruang-ruang seni alternatif. Baginya, ada penyikapan yang berbeda dalam pembuatan karya seni di galeri komersial dan ruang seni alternatif. Sebagai seorang seniman, ia merasa harus memiliki  sikap yang mampu ditunjukkan dengan karya-karyanya dengan cara yang khas. Pemilihan lokasi Lir Space dalam project terbarunya ini merupakan usahanya untuk mencari tempat uji coba dan bereksperimen dengan ‘pasar seni rupa’ dalam lingkup yang (dalam hal ini) sangat kecil.

Dalam pameran “Power of the Sun”, Moki membuat poster 12 band yang terdiri dari berbagai genre dan berasal dari Jogja. Desain poster tersebut merupakan interpretasi visual Moki atas band-band pilihan pribadinya. Tidak hanya merasa memiliki kedekatan personal, Moki pun tergabung sebagai anggota pada lima diantara duabelas band yang diposterkan (Punkasila, Airport Radio, Black Ribbon, Shopping List, dan The Wonosari).
Poster tersebut dibuatnya dengan memanfaatkan tehnik sablon yang merupakan ciri khas karya-karyanya Tehnik ini dipilih karena kemampuannya untuk direproduksi tanpa menghilangkan unsur sentuhan tangan dan tetap memiliki nilai estetika khusus yang berkarakter. Tiap-tiap salinan karya tidak ada yang persis sama. Ketidaksempurnaan ini lah yang membedakan hasil sablon dengan poster hasil cetak digital yang serba seragam. Selain itu, Moki merasa banyak terbantu karena tinggal di negara tropis di mana matahari bersinar sepanjang tahun dan mempermudah proses sablonnya. Ia menyebut hak istimewa ini sebagai “Power of the Sun”.

Moki sendiri terbiasa mengerjakan suatu karya berbasis hal-hal yang memiliki kedekatan dengan dirinya; dalam hal ini- musik, sablon, dan kota Jogja. Pameran ini merupakan usaha Moki untuk mempertemukan bidang grafis dan musik yang berjalan beriringan namun masih juga menimbulkan pertanyaan-pertanyaan atas penghargaan satu sama lain. Situasi ini dinilainya secara unik hanya berlaku di Jogja yang merupakan kota para ‘pembuat’. Selalu ada ego dan alasan untuk membuat sendiri alih-alih membeli. Karena itu lah terkadang sistem yang digunakan dalam beberapa kasus merupakan sistem barter/ gotong royong yang unik dan penuh pemahaman. Kali ini, Moki melempar hak istimewa penentuan ‘harga’ atas sebuah karya kembali ke publik.
Masing-masing desain poster ini hanya akan dicetak sebanyak 20 kali dan ‘pasar seni rupa’ yang hadir dalam pameran ini; para musisi, mahasiswa, sampai ibu-ibu rumah tangga memiliki hak yang sama untuk memilih dan menentukan sendiri harga yang bersedia mereka bayarkan untuk tiap karya yang mereka inginkan. Hal ini merupakan bentuk eksperimen sang seniman atas pasar seni rupa alternatif, khas dengan sedikit sentuhan humor ala Moki yang menggelitik. 

Maka, selamat memanfaatkan hak istimewa anda dan selamat berbelanja!



(Mira Asriningtyas)


*****



INTERVIEW WITH PRIHATMOKO MOKI



-Could you tell us a bit about mukamalas?
-My background is an artist. Earlier, there was terminology of painters, graphic designer. Now, just call it artist. And I can works with all media. So, the mukamalas’ artworks then appear with variant form: comic, silkscreen, notes. The name of mukamalas itself was chosen for it is my own name, Moki which is done unintentionally popular in ‘high art’. For artworks I said before, comic, silkscreen , etc, I just use mukamalas.

-What is the background of Power of the Sun?
+Its background states that art is not always exhibited in big galleries, that everyone can be an art collector, that everyone can give its own price to the artworks, that every people can buy artworks. I want to declare them all through Power of the Sun.

-Why is it called Power of the Sun?
+Because Indonesia is rich of the sun shine. The artworks in Power of the Sun are silkscreen. The sun helps much in the silkscreen process. Drying under the sun fasten the process. So, it is called power of the sun.

-So, what about the creativity itself?
+I have thought for long time for the idea about Power of the Sun. Power of the Sun is a combination from fine art and music. My artworks relates to me and not so heavy. It deals with my environment and I, fine art and music. Because if I made something I did not undergo, I will just make a lie. Band or music commonly is near with my environment and I.

-Is there any specific reason choosing Lir as a space to exhibit?
+Yeah. I said before that Power of the Sun is my stance statement. My spirit and my generation in doing the art is like this as you can see. But soon, there is a fine art boom. Artworks as mine become expensive. I am happy with this and just stay doing it. In the other hand, I feel that it should not be like this. I have anxiety for that. So, I come here with mukamalas. To state my behavior, space art becomes so politic. So, I choose Lir, as an alternative space art.

-Now the chit-chat question, what’s making you busy recently?

+I am busy making a band themed Javanese Culture, playing music, working in mukamalas silkscreen, and keep drawing.


*****


WAWANCARA DENGAN PRIHATMOKO MOKI

-Bisa ceritakan sedikit tentang mukamalas?
+Latar belakangku perupa. Dulu masih ada istilah pelukis, penggrafis. Sekarang, sebut saja perupa. Dan bisa berkarya dengan medium apa saja. Makanya, karya-karya mukamalas lalu hadir dalam berbagai bentuk, dalam bentuk komik, dalam bentuk silkscreen, dalam bentuk notes. Nama mukamalas sendiri saya pilih sebab nama saya sendiri, Moki, sudah terlanjur dikenal di “seni tinggi”. Untuk karya macam yang kusebutkan tadi, komik, silkscreen, dll, aku pakai saja mukamalas.

-Latar belakang dari Power of the Sun apa?
+ Latar belakang Power of the Sun untuk menyatakan bahwa seni tak melulu dipamerkan di galeri besar, bahwa semua orang bisa menjadi kolektor seni, bahwa semua orang bisa memberi harga sendiri untuk karya seni, dan bahwa semua orang bisa membeli karya seni. Aku ingin menyatakan itu semua lewat Power of the Sun.

-Kenapa namanya Power of the Sun?
+Sebab di Indonesia itu banyak sinar matahari. Karya-karya di Power of the Sun itu silkscreen. Matahari sangat membantu dalam proses silkscreen. Menjemur di bawah matahari bisa mempercepat proses. Makanya, power of the Sun, kekuatan matahari.

-Lalu, proses kreatifnya sendiri bagaimana?
+Ide tentang Power of the Sun sudah aku pikirkan lama. Power of the Sun itu gabungan dari seni rupa dan musik. Karya yang aku bikin berhubungan dengan yang kualami dan tidak terlalu berat. Berhubungan dengan sekitarku dan aku, seni rupa dan musik.  Karena jika buat sesuatu yang tidak kualami, malah nanti mengada-ada. Band, atau musik secara umum, dekat dengan lingkungan sekitarku dan aku.

-Ada alasan spesifik dalam memilih Lir sebagai ruang untuk pameran?
+Oh iya. Aku bilang tadi Power of the Sun itu pernyataan sikapku. Spirit saya dan generasi saya dalam berkesenian ya yang seperti ini. Tapi kemudian ada boom seni rupa. Karya seni, termasuk milikku, jadi mahal. Aku sih senang-senang aja dan tetap menjalaninya. Di satu sisi, aku rasa harusnya tidak seperti itu.  Ada kegelisahan atas itu. Makanya aku hadir dengan mukamalas. Untuk menyatakan sikap, tempat pameran pun jadi pilihan politis. Makanya aku pilih Lir, Lir ruang seni alternatif.

-Sekarang pertanyaan remeh-temeh, sibuk apa akhir-akhir ini?
+Sibuk bikin band bertema kebudayaan Jawa, masih main musik, berkarya di mukamalas silkscreen, dan tetap melukis.


*****