Pages

Her Finger Power



"Her Finger Power"
Artist: lka Vantiani | Writer: Kartika Jahja | October 6 – 21 , 2012

For Vantiani, collage actually becomes a combination of many things that she like; the spirit to creating something by herself, simplicity, empowering, recycling, and surprises.  She wants to show what her scissor, glue, and ten fingers make; and say: “hey you, please try to make it too!”

-----


Bagi Vantiani, kolase bisa berarti sebuah kombinasi dari hal-hal yang disukainya; semangat untuk membuat sesuatu sendiri, kesahajaan, pemberdayaan, penggunaan ulang, dan kejutan-kejutan. Ia ingin memperlihatkan bahwa gunting, lem, dan jari-jarinya bisa membuatnya; dan berkata: “hei kamu, silahkan coba membuatnya juga!”

*****


INTERVIEW WITH IKA VANTIANI


-Could you tell us about your creativity during the time?
+My creativity is making collages in variant shapes. Sometime it starts from the material first, sometime it starts neither from the visual or its main picture first, or even nor of which. Sometime I just follow my fingers, available materials, and the emotion that i feel; then, there it goes: an artwork. But, if it is ordered, the process will be the usually given, and it will be done as the dateline.

-Learning from the preface from Kartika Jahja, why do you finally choose collages as your art media?
+To me, there was no word ‘finally’ in doing the art. But because it seemed that collage has become my ‘art friend’ longer than my ‘playing-toy’ indeed, you may think so. Moreover collage actually becomes a combination of many things that I like as the spirit to creating something by myself, simple, empowering, recycling, and full of surprise because we often do not know how our artwork results.

-What makes you choosing collage?
+I did not feel that I choose actually, but it is a process to creating that I feel comfort in it. I know collage begun from just trying to make a poetry book by myself, then zine which all uses collage because I did not expert in using computer. It’s just that simple. So for me, collage is a result from the long enough process, but not the final result.

-What message you want to deliver through your artworks?
+Honestly, I have no special messages from my collages except I just want to show what my scissor, glue, and my ten fingers make. Even though off course, there are some collages I create with special messages, but generally I think I just want to say: hey you, please try to make it too!

-So far, what is the most precious collage artwork for you?
+The one which is entitled ‘Please, Don’t Cry”. Why? The time I made it is a moment which was the most sad and important in my life at the same time. The creating process is also as simple as sitting and making something with all stuff available in front of me. This artwork is a result from my emotional creativity at all at that time. Giee! Haha...

-Please describe your artwork in five words.
+Color, colorful, lively, painting, and past.

-What do you think at the first time you know Lir and what is your opinion with Lir as an alternative art space?
+I know Lir firstly from the comment Miss Mira wrote in my blog. At that time she used the flash pictures, the color and the way she talk in my blog made me feel that it would be a little interesting space to me because there are a lot of thing which is my favorite: the building, the color, the decoration, and many activities held there: foodstuffs, creating, and chit chat.

From some visiting to Yogyakarta, the room concept that Lir offered, is the unique indeed. So, it means that Lir really gives me an alternative choose to whom likes creating, foodstuffs, and chit chat to gathering and making something together. Two thumbs up!

-Is there any particular reason why you hold “Her Magic Finger” at Lir?
+Not really, the reason is just as simple as Mira and Dito came offering LirSpace to have an exhibition there last year. The process is also relaxing and not complicated; from the beginning we met in Jakarta until finally I have an exhibition there.

-Moreover, is it your first single exhibition?
+That’s it. That makes it interesting because I never feel that I have to hold a single exhibition, but actually the time wants the other thing. So, there it goes the exhibition as I imagined before. The room, the shape, the coming people, evens the preparing process. Oh, it was delightful!

-Talking about a single exhibition, why do you make it in 2012?
-Because if Mira did not come at that time, perchance I would not ever think to have an exhibition last year. Hahaha! Even tough, at that time, I was preparing a single exhibition with the collaboration theme and going around, yet the substance had not finished yet, even today. But at the same occasion, I also realize there are much of my artwork that had been unknown by people since the co-exhibition with my friends in 2009 (because after that just  some of my artworks that was exhibited to the next co-exhibition). So the time is right indeed. There it goes, my single exhibition at Lir Shop and it becomes my first to show creating my collage since 2009 up to 2012.

-Does “Her Magic Finger” bring something to your art process?
+Absolutely.

-So, what is that?
+An experience to have a single exhibition for the first time, off course. All about this exhibition becomes the first time for me, not only the process, but also the place and the people that I met a lot before, at the time, and after this exhibition.

-Besides doing the collage, what is your other daily activity?
+Working in a creative room in the field of photography where there is a studio and also a school inside.

-What is your next plan dealing with the art process?

+I want to have my own studio which has a gallery and my production there. Besides that, I want to own a website. I believe it.


*****

WAWANCARA DENGAN IKA VANTIANI

1. Bisa ceritakan tentang proses kreatif mbak Ika selama ini? 
Proses kreatif saya untuk membuat kolase bisa dalam berbagai bentuk. Kadang dimulai dari bahan kolasenya dulu, kadang dari visual atau gambar utamanya dulu, atau bahkan tidak keduanya sama sekali. Beberapa kali hanya mengikuti saja jari dan materi yang ada di depan mata serta emosi yang sedang dirasa lalu jadilah sebuah karya.

Sedangkan kalau ini karya pesanan, prosesnya tentunya dari panduan yang diberikan lalu dikerjakan sesuai dengan tenggat waktunya.

2. Berangkat dari tulisan pengantar Kartika Jahja, mengapa (pada akhirnya) mbak Ika memilih kolase sebagai medium berkesenian? Apa yang mempengaruhi mbak Ika hingga memilih kolase?
Menurut saya tidak ada kata ‘akhirnya’ dalam berkarya. Tapi memang karena kolase tampaknya menjadi sebuah proses berkesenian yang sudah cukup lama saya tekuni dibandingkan dengan ‘mainan’ saya yang lainnya jadi tampaknya begitu ya.

Selain itu kolase juga teryata menjadi sebuah perpaduan antara banyak hal yang saya sukai seperti semangat membuat sendiri, sederhana, empowering, daur ulang dan penuh kejutan karena seringkali kita tidak tahu hasil akhir karya kolase kita akan seperti apa.

 Saya merasa tidak ‘memilih’ sebenarnya, tapi lebih sebagai sebuah proses berkarya yang ternyata saya merasa nyaman di dalamnya. Karena saya mengenal kolase awalnya dari iseng membuat buku puisi sendiri kemudian zine yang semuanya memang menggunakan kolase karena saya tidak lihai menggunakan komputer untuk berkarya. Awalnya sesederhana itu.

Jadi buat saya kolase adalah hasil dari sebuah proses yang cukup panjang, tapi bukan hasil akhir.

3. Apa yang ingin mbak Ika sampaikan lewat karya-karya mbak Ika sekarang? 
Dari awal sebenarnya tidak ada pesan khusus dari kolase-kolase yang saya buat selain saya hanya ingin memperlihatkan apa yang bisa dibuat oleh gunting, lem dan sepuluh jari saya. Walaupun tentunya ada beberapa kolase yang saya buat dengan pesan khusus namun secara umum saya rasa pesan yang saya ingin sampaikan sesederhana, ayo bikin kolase juga!

4. Sejauh ini karya kolase apa yang paling berharga bagi mbak Ika? 
Karya kolase saya yang berjudul Please, Don’t Cry. Kenapa? Karena waktu membuat itu adalah momen yang paling menyedihkan sekaligus penting dalam hidup saya. Proses pembuatannya juga sesederhana duduk dan membuat dengan semua bahan yang ada di depan saya. Karya ini karya yang sepenuhnya hasil dari keadaan emosional saya waktu itu. Cieee! Haha!

5. Kalau disuruh menggambarkan karya-karya kolase mbak Ika dalam 5 kata, kata-kata apa yang akan mbak Ika kemukakan? 
Warna, warni, ramai, gambar, lampau.

6. Awal mula berkenalan dengan Lir dan pandangan mbak Ika tentang Lir sebagai alternative art space seperti apa?  
Awalnya tahu Lir dari komen yang ditinggalkan Mira diblog saya. Waktu itu secara sepintas dengan foto-foto, warna dan cara Mira bertutur di blognya saya merasa ini akan menjadi sebuah ruang kecil yang menarik buat saya karena disana ada banyak hal yang saya sukai dari mulai bangunan, warna, dekor dan berbagai kegiatan yang dilakukan disana dari mulai makan-makan, bikin-bikin dan ngobrol-ngobrol.

Dari beberapa kali ke Yogya, konsep ruang yang ditawarkan oleh Lir memang ternyata belum ada ya. Jadi artinya sungguhan memberi alternatif pilihan untuk mereka yang suka bikin-bikin, makan-makan dan ngobrol-ngobrol untuk berkumpul dan membuat sesuatu bersama. Jempol!

7. Adakah alasan tertentu mengapa memilih mengadakan "Her Magic Finger" di Lir? 
Tidak, karena memang sesederhana Mira dan Dito datang menawarkan LirSpace untuk berpameran disana tahun lalu.  Prosesnya juga santai dan tidak rumit dari mulai kita bertemu pertama kali di Jakarta sampai kemudian ketemuan beberapa bulan sebelumnya untuk melihat Lir pertama kali serta akhirnya pameran disana. Apalagi ini adalah pameran tunggal pertama mbak Ika? Nah, yang menarik malahan ya karena saya memang tidak pernah merasa ‘harus’ pameran tunggal, tapi ternyata waktu akhirnya saya berpameran tunggal pertama kali, kemarin itu segalanya tentang pameran itu adalah seperti yang saya bayangkan. Ruangnya, bentuknya, orang-orang yang datang bahkan proses persiapan pamerannya. Senang sekali!

8. Ngomong-ngomong tentang pameran tunggal pertama, kenapa baru mengadakannya di 2012? 
Karena memang kalau Mira tidak datang dengan tawaran itu, mungkin juga tidak terpikir untuk membuat sebuah pameran tunggal tahun lalu. Hahaha! Walaupun memang waktu itu saya sedang menyiapkan sebuah pameran tunggal yang konsepnya kolaborasi dan juga berkeliling, namun materinya memang belum selesai bahkan sampai hari ini. Tapi di saat yang sama saya juga sadar ada banyak sekali karya saya yang belum banyak orang tahu sejak berpameran bersama teman-teman saya di tahun 2009 (karena setelah itu karya-karya saya hanya beberapa yang dipamerkan untuk pameran-pameran kelompok setelahnya). Jadinya memang pas waktunya ya.

Jadilah pameran tunggal saya di LirShop menjadi pameran tunggal saya yang pertama yang memperlihatkan proses pembuatan kolase saya sejak 2009 sampai 2012.

9. Apakah "Her Magic Finger" membawa sesuatu ke dalam proses berkesenian mbak Ika? Jika ya, apakah sesuatu itu?
Tentunya. Pengalaman untuk berpameran tunggal untuk pertama kalinya, tentu saja. Semua tentang pameran ini menjadi yang pertama kali buat saya tidak hanya prosesnya, tapi juga lokasi dan orang-orang yang banyak saya temui sebelum, saat dan sesudah pameran ini.

10. Selain berkolase-ria, apa kesibukan mbak Ika sehari-hari? 
Bekerja di sebuah ruang kreatif yang bergerak di bidang fotografi dimana ada studio dan juga sekolah di dalamnya.


11. Rencana mbak Ika selanjutnya terkait proses berkesenian? 
Saya ingin mempunyai studio sendiri dimana nanti ada galeri dan tempat produksi saya disitu. Selain itu tentunya memiliki website sendiri juga. Di luar itu semua saya juga selalu percaya



*****