Pages

Have We Met


"Have We Met?"
Artist: Dito Yuwono | July 20 – August 3, 2011

“Have We Met?” is a photography project as well as the first solo exhibition of Dito Yuwono. It is about how he remembers face better instead of name. It shows intimate close ups portraits that omitted any other identity but face. The project and the artist are later chosen as Mes56 3 Points Award.   

-----


“Have We Met?” adalah sebuah proyek fotografi yang juga sekaligus pameran tunggal pertama Dito Yuwono. Karya ini adalah tentang bagaimana sang seniman mengingat muka lebih baik daripada mengingat nama. Karya yang ditampilkan berupa potret close up yang sangat intim dan menghilangkan identitas lain selain muka. Proyek ini dan senimannya terpilih menjadi satu dari tiga seniman 3 Points Award di Mes56. 

*****


INTERVIEW WITH DITO YUWONO


-Could you tell us about your creativity so far?
+At first, I made videos. I seriously intend to photography in 2008. Firstly, I made some projects. I did the project as simple as responding what I did see and feel that later I processed it with observation. I also saw exhibition in Semarang in 2008 but with more relax. Related to the “Have We Met?” exhibition, the process was started in 2010. I made a project about remembering faces. That project was published in Huff magazine third edition then. It was for checking how if the project was presented through exhibition.

-Why do you choose photos as your art media?
+In my opinion, at this time or at that time, photo is comfortable to stand on art. At first, in my process, I made films. I felt that was a complicated process. Besides, film also needs teamwork, I as a director, have a duty to direct the scene shoot. Then, I tried video I could afford by myself. But from my process through video, I realize that I take the unmoved objects. Then I thought, “Why I did not take the photography?” So, yap that’s it. The most favorable thing at present is photography. Even though, I have not decided to stop in photography as my art media.

-What thing that you enjoy the most during the art process?
+What I enjoy the most is the new discoveries in the process of creating. Those discoveries can enhance something good to the present idea or even give the new inspiration.

-Could you tell about the coming up passion to process through photography and how do we manage it?
+My background education is Communication. At first, I am interested in photography, just say because of a study major. Then I became a reporter in web zine and DAB. From my experience becoming a reporter, my curiosity was sharpened. Then I choose to express my curiosity through photos. When I was a reporter, I interviewed many artists. From their experience, I was fascinated to follow my passion and kept it, fortunately that was art process through photos and it did not close the possibility that next time I will do the art process through other media.

-What is your main activity right now?
+My main activity is related to artistry and some for example, is continually involved in some activity if MESS 56, such as 3 Point Awards. I am also involved in some exhibition activity, such as ArtJog.

-What is your next plan?
+Learning. For example, I join with MESS 56 to learn the concept of performance photo. I also practice organization through Kunci’s project: Bon Suwung. I become residency artist assistant in Cemeti too. I understand it as my learning process and is involved to the wider part.




*****




WAWANCARA DENGAN DITO YUWONO

-Seperti apa sih proses kreatif selama ini?
+Awalnya bikin video. Mulai serius ke foto tahun 2008. Pertama kali bikin-bikin proyek di tahun itu. Proyek kukerjakan sesederhana merespon apa yang aku lihat dan rasain yang lalu aku olah lewat observasi. Aku juga sempat pameran di Semarang tahun 2008 tapi dengan penyikapan yang lebih santai. Nah, kalau terkait pameran “Have We Met?” proses dimulai di pertengahan im 2010.  Aku bikin proyek tentang mengingat muka. Proyek itu lalu ditampilkan di majalah Huff edisi ketiga. Untuk mengecek bagaimana jika proyek itu dipresentasikan dalam bentuk pameran.

-Kenapa memilih foto sebagai medium berkesenian?
+Menurutku, saat ini dan saat itu, foto enak dijadikan sebagai landasan berpijak dalam berkesenian. Pertama kali, dalam prosesku aku mencoba film. Aku merasa itu proses yang complicated. Selain itu, film juga kerja tim, ada director yang bertugas mengarahkan pengambilan gambar. Kemudian, aku coba video yang bisa dikerjakan sendiri. Tapi, dari prosesku dengan video, aku jadi sadar kalau aku banyak mengambil gambar-gambar diam. Kemudian aku bertanya, “Kenapa tidak foto sekalian?” Jadi, ya, itu tadi. Yang paling menyenangkan untuk saat ini adalah foto. Meski, belum pasti aku berhenti di foto sebagai medium berkesenian.

-Yang paling dinikmati dari proses berkarya?
+Yang paling aku nikmati adalah penemuan-penemuan baru di tengah proses mencipta. Penemuan-penemuan itu bisa menambahkan sesuatu kepada gagasan yang sudah ada atau malah justru memberikan gagasan baru.

-Bisa bagi cerita tentang munculnya passion untuk berkarya lewat foto dan bagaimana menjaga passion tersebut?
+Latar belakang pendidikanku komunikasi. Pertama kali aku tertarik dengan foto yah karena mata kuliah. Kemudian aku jadi reporter di web zine dan DAB. Dari pengalamanku menjadi reporter, terasah skill ingin tahuku. Nah, aku memilih menyampaikan rasa ingin tahuku itu lewat foto. Ketika aku jadi reporter, kebetulan aku juga banyak mewawancara seniman. Dari pengalaman mereka, aku jadi tertarik untuk mengikuti passion dan menjaga passion itu, kebetulan itu adalah berkarya lewat foto, meski tidak menutup kemungkinan besok-besok aku bisa berkarya lewat medium lainnya.

-Kesibukan sekarang?
+Kesibukan sekarang yang terkait keartisan ada beberapa, misalnya secara kontinu terlibat dalam beberapa aktivitas MESS 56, seperti 3 Points Awards. Juga secara cukup aktif terlibat dalam beberapa aktivitas pameran, misalnya ArtJog.

-Rencana selanjutnya?
+Belajar. Misalnya, gabung dengan MESS 56 aku belajar tentang gagasan foto performance. Aku juga berusaha belajar berorganisasi dari proyeknya Kunci, Bon Suwung. Aku juga jadi asisten seniman residensi di Cemeti, itu aku pahami sebagai proses belajar dan terlibat di bagian yang lebih luas. 



*****